Enam puisi gagal — tentang cinta & hal lain

Rafik NurF
3 min readMar 7, 2020

--

Photo by Blake Barlow on Unsplash

Ini adalah puisi gagal lanjutan postingan sebelumnya. Yaitu puisi di antara 9 puisi yang gagal dimuat oleh media. Sial betul! But its ok, i think i should be learn to write again. again & again, but soon as possible. *mencobaBerdamaiDenganDiri

Kita hanya seorang

Kita hanya seorang

pelancong, yang mengunjung segala tempat

lalu berdiam –termenung, di tepi

ilusi, dan merekam adegan yang maya;

atau memotret sebuah lanskap

yang entah apa.

-

Kita hanya seorang

murid, yang rindu akan

bel pulang. “Jangan terlalu cepat memesan

kata pulang,” katamu, di depan kelas

kau jengkel. Tapi aku menyahut:

Bukankah kita hanya murid,

yang takut tersesat?

-

Atau jangan-jangan kita adalah pelancong

yang merangkap, jadi murid ?

-

Kita termenung, berdiam & entah mengapa, mungkin

hanya takut tersesat. Tapi benarkah kita

terlalu cepat, memesan kata

untuk sebuah pulang?

— Surakarta, 2020

-

-

Kuceritakan

Kuceritakan,

pesan untukmu:

Di sini ada yang bakal

lebih panjang dari sebuh kuku

manusia yang cedera karna rindu

seperti roh yang tak lagi menyentuh

tubuhnya, yang samar dan tak bersuara.

Rindu yang tak bisa lagi menggesekkan

kening, lidah dan penciumannya, juga

nafasnya. Ke seluruh tirai jendela;

ke gagang pintu rumah yang

terkunci, dan tak bisa

dimasuki angin.

Juga ingin.

— Surakarta, 2020

-

-

Di Beranda ini, angin menuntun kita

Di beranda ini,

angin tak sabar membuka kanvas:

“aku melukiskan waktu di situ,” katamu.

sedang aku tak mendengar dentum

dari bunyi kuas, tapi kau berdendang:

“aku menggoreskan sabar

dan duka dengan itu”.

-

Aku termenung, sedang

lukisan itu menuntun kita.

Kanvas kau pegang, tapi aku di sini

dibawa angin

yang mengecil jadi sepoi.

-

Aku menggengam waktu, perlahan

tapi kita terseret waktu.

Tanganku serasa kau genggam

udara kau himpit dalam wangimu

kau menunjuk jalan

aku mulai mengalir

dan mengalir

— meski kadang membelok —

aku menemui tempo

kita menemukan keindahan

dan terus mengalir

tetap mengalir

dalam ritmis lukisan,

dan tenggelam.

— Purbalingga, 2020

-

-

Aku ilalang berkabut

Aku tak carut-marut,

dalam terasing

sedang kau, meramai

dalam hiruk pikuk dunia.

-

Ilalang tak menyumpahi embun

yang datang-pergi

pun kabut: ia bersahaja dalam kemungkinan.

— Biar ku jadi ilalang, yang berkabut!

— Surakarta, 2020

-

Bahasa Sang Kekasih

kita di antara tirai

penghias kuil pada lampu-lampu

yang saling menyoroti kisah,

kasih bagai para pecinta.

-

matamu terbenam damai

seolah kuntum mawar

yang terkulai sebab desir

alunan minor pada biola.

-

yang ketika satu dawainya dipetik

ia membuatmu menggerayang di angkasa

yang ketika semua dawainya dipetik

ia membuatmu mengerti bahasa cinta.

-

kita bertatap muka,

mengalir senyum; menyapa meja makan;

meneguk cawan romansa pada malam:

mahligai tirai berkerumun menjumpai kita.

-

tirai tirai menutup dengan kata

menutupi segala bahasa

di sekililingnya ratusan kuntum mawar

mewangi; menyergak; namun layu

seperti cawan bekas anggur.

tatkala tirai itu tersingkap

di dalamnya ada rangkuman tafsir

terikat pada anak panah

yang kini melesat membawa

sehimpun: bahasa sang kekasih.

-

anak panah itu

menusuk,

menancap,

menanyai:

apa yang aku tafsirkan

— dari bahasa yang tak engkau ucapkan.

apa yang aku pahami

— dari bahasa seorang kekasih.

-

aku menengadah, mengecap & membisik:

bahasa itu bahasa diam,

bahasa tanpa kata kata

bahasa yang menafsirkan,

bahasa bahasa kesunyian.

— purbalingga, 2020

-

-

Barangkali rindu bisa kusemai

Aku menatap jauh,

pepohonan di situ merestui

tanah-tanah tandus tunduk, sedang

pupuk airmata tak pernah habis

tapi engkau bertanya:

Bolehkah aku memanen rindu?

— purbalingga, 2020

--

--

Rafik NurF
Rafik NurF

Written by Rafik NurF

sedang menemui dan menemukan kejutan-kejutan dari Tuhan.

No responses yet