hari ke-1: kicau

Rafik NurF
3 min readOct 1, 2020

--

(tulisan ini dibuat untuk tantangan 30DaysWritingChallenge, tahapan DAY1: describe your personality)

Photo by Julia Craice on Unsplash

Kemarin-kemarin saya bercerita pada seseorang kalau diri ini punya prioritas hidup pada dua titik. Pada dua dunia yang sukar betul memiliki keterpautan. Detailnya, dunia teknologi dan dunia literature (sastra khususnya) adalah dua titik prioritas yang hingga saat ini, detik ini, saya tempuh dengan segala ketidakpastiannya.

Padahal kalau dibaca dengan seksama, ‘dua prioritas’ itu ya sebenarnya bukan lagi prioritas (lha wong prioritas kok ada dua?). Saya tertawa, kadang juga sampai larut malam memikirkan, bagaimana mungkin saya bisa fokus pada dua titik itu yang bahkan saya sendiri selalu kesusahan buat menemukan harmonisasinya?

Duh! saya jadi ingat, pada burung-burung yang berkicau di pagi hari, bergegas tinggal sarang, pulang dengan keadaan perut terisi — tanpa membawa persediaan. Begitu seterusnya sampai pagi-pagi berikutnya. Burung-burung itu lebih tahu bagaimana menikmati keselarasan hidup; gembira, tak khawatir dengan rezeki, mengambil secukupnya.

Kepribadian (saya dan yang ada dalam saya)

Kenyataannya, dua dunia itulah yang membawa pengaruh betul pada ideologi, cara pandang hidup, atau apalah pada kepribadian saya. Tak cukup sampai di situ, kadang dua dunia itu — dengan dua lingkungan pertemanan yang berbeda gelombang — juga membuat saya perlu berlatih objektif.

Melihat dari cara berpikir orang-orang tech yang kerap lebih ekslusif, lebih maju, dan lebih matang kehidupannya (mungkinkah karena sains?). Berbeda misalnya, dengan lingkungan literature yang kerap lebih enjoy dalam menikmati hidup, bercengkerama dengan sesama, hidup sederhana, tak perlu banyak pencapaian (mungkinkah karena sosial-humaniora?). Saya cukup andil menimang-nimang gagasan dari mereka yang berbeda gelombang, untuk kemudian saya pilih dan ambil guna kepentingan tertentu dalam konteks tertentu. Meski kadang sialnya, saya bisa berat sebelah.

Memiliki circle pertemanan yang berbeda itu pula yang kadang saya jadi tidak punya modal kuat membangun ‘identitas’, ‘persona’ di dunia nyata maupun dunia maya. Terkadang saya bisa lebih merasa produktif ketimbang teman-teman dari literature. Kadang juga lebih merasa bisa menikmati hidup ketimbang teman-teman dari tech. Meski hal itu sia-sia belaka.

Untunglah di tahun ini saya mengetahui yang namanya test kepribadian (MBTI). Hasilnya saya seorang INFP, pada test pertama. Seorang INFJ, pada test kedua. Dan hanya dua kali test, pada website yang berbeda pula. Namun, ternyata saya lebih condong ke INFJ. Saya kerap merasa relate betul dengan penggambaran-penggambarannya.

diambil dari website: https://psikologihore.com/tipe-kepribadian-infj/#:~:text=INFJ%20adalah%20salah%20satu%20dari,cita%20dan%20value%20yang%20mulia.

Meski saya tidak terlalu percaya 100% dengan hasil test yang menggambarkan kepribadian saya ini. Setidaknya, kerap membantu bahwa sebenarnya struggle-feeling yang didapat itu bukanlah satu-satunya saya yang merasakan. Saya pikir hasil test tersebut bisa berubah sewaktu-waktu ketika kita bertambah usia, bertambah pengalaman, tentu dalam melihat sepenuhnya kehidupan.

Saya rasa kepribadian ini hadir belum lama setelah saya beranjak dewasa. Sebab merasakan hal semasa remaja, begitu tidak stabil kondisi emosional saya. Hingga suatu titik, pada cobaan cukup berat diri saya, hadir dan menempeleng bahwa saya perlu belajar belajar betul tentang mengontrol emosi. (sebab sebelumnya hanya berkutat pada dunia teknologi).

Dan di dunia literature lah yang membawa saya pada kondisi emosional sekarang. Yang kerap membuat saya merenung, memikirkan kehampaan hidup, bagaimana hidup saya dihabiskan, bagaimana kebermanfaatannya, apakah ini bener dan pener, dll dst dlsb.

Kerap membuat saya menatap kosong jalanan lengang, melamun di atas rooftop, melihat aliran sungai yang tenang, melihat burung-burung berkicau pada tiang listrik. Sambil sesekali menggumam: sepertinya indah betul hidup sebagai seekor burung. Tak perlu ambil pusing tentang kehidupan, lebih mengerti harmoninya kehidupan.

--

--

Rafik NurF
Rafik NurF

Written by Rafik NurF

sedang menemui dan menemukan kejutan-kejutan dari Tuhan.

Responses (1)