hari ke-12: mengingat
(tulisan ini dibuat untuk tantangan 30DaysWritingChallenge, tahapan DAY 12: Favourite tv series)
Minggu pagi pernah kita lewatkan dengan cara yang amat sederhana. Seperti biasa, seusai atau malah sembari sarapan kita bergegas nuju ke ruangan televisi bercokol. Menunggu tayangan mengasyikkan dari kartun-kartun lucu bergulir sesuai jadwal. Di mana lagi kalau bukan di bawah naungan salah satu program teve tersohor dan paling dikenali anak kecil waktu itu — ya, RCTI.
Kita mendapati diri yang masih seumur jagung kala itu. Atau, intinya kita bermisal tidak ada progam teve favorit selain program-program yang ditayangkan khusus minggu pagi. Waktu ke waktu pun berganti, tak ubahnya saluran teve yang menayangkan program-program unggulan untuk kita. Dari saluran teve A berpindah ke saluran B, B ke C, hari kemudian direbut lagi oleh saluran A lalu kembali ke-B dan lain lainnya lagi.
Tapi tentu kita tak menyoal perihal demikian. Asal series teve kita tayang, di manapun itu kita tonton. Meski terkadang juga dilempari dilema: kedua saluran teve menayangkan series favorit secara bersamaan. Kita yang kecil kala itu pula terkadang bingung. Ketika series satu iklan, kita ganti ke series favorit lainnya; satunya telah tayang kita ganti lagi, …begitu seterusnya.
Kita mengingat hal semacam itu sebagai dilema yang masih bisa menguntungkan. Bukan dilema ketika kita beranjak dewasa, dimana dilema adalah hal mutlak antara pilih ini atau itu; ya atau tidak. Kita seolah harus bisa bersifat tegas (atau mungkinkah begitu perangai orang menuju dewasa?) dalam menyikapi persoalan. Meski sepele semacam pilih warung a atau b, dan bukan jawaban terserah yang kita terima. Begitu sepertinya kisah roman sejoli yang kerap kudengar.
Ketika masih bisa mengingat semasa kecil kita menonton series-series favorit teve apa saja, tentunya itu jadi keuntungan tersendiri. Misalnya begini, kita bisa bercerita ke adik-adik kita; menjadi bahan obrolan hangat ke orang-orang terdekat kita; atau malah bahan buat menuntaskan tulisan. Hahaha.
Untuk saya sendiri, mengingat series-series teve favorit tak sulit buat ditemukan — karena memang tontonannya itu-itu saja. Ambil contoh saja series, di saluran teve yang sudah kubilang, Doraemon, Shinchan, Ninja Hatori. Atau kepingin menyeberang sedikit, kita bakal menemukan: Power Rangers, Kamen Raider, Tsubasa, dll dkk dst-nya.
Dan dari sekian banyaknya itu, karena saya ingin mencoba menghemat tulisan, maka Doraemon adalah yang menjuara; yang paling favorit hingga sekarang ditonton. Alasannya sederhana: Doraemon adalah animasi paling mengejawentahkan kehidupan. Layaknya karya sastra yang adiluhung. Avant garde tapi dibungkus dengan pernak-pernik yang lucu. Dan tidak terbatas generalisasi penonton.
Untuk series Doraemon sendiri di teve dahulu juga sudah favorit bagi saya. Meski ceritanya terkadang begitu renyah. Tapi selalu ada yang membuat pikiran kita gemas. Selalu ada pesan di balik kekonyolan dan kemalangan tokoh di akhir cerita. Dan kupikir, begitulah animasi yang apik: lengket dengan realita dan tidak terlalu naif akan kesedihan, penolakan, kemalangan, dlsb.
Selain itu, karena saya termasuk masyarakat yang hobi berselancar (di dunia maya) maka tak heran pula sekali dua kali menemukan akun-akun fanspage macam ini:
Yang mana tidak pernah abstain buat kufollow. Lantas selalu hadir memberi likes atau retweet (jika di twitter) ketika konten yang disajikan merasa relate dengan diri sendiri.
Seperti akun twitter & ig dari @DoraemonHariIni yang sampai sekarang selalu menimbulkan pertanyaan: kok tidak habis pikir membuat caption yang epik meski dengan wacana yang itu-itu saja. Nyatanya buku komik Doraemon hingga kini masih banyak yang membaca; mengoleksi, dan menggandrunginya.
Dan itu cukup sahih jadi bukti Doraemon tak lekang oleh waktu, penggemar, dan masif serta garangnnya animasi-animasi serupa yang bermunculan. Salam hangat buat kang Fujiko F. Fujio. Tabik!.