hari ke-13: klasik

Rafik NurF
4 min readOct 13, 2020

--

(tulisan ini dibuat untuk tantangan 30DaysWritingChallenge, tahapan DAY 13: Favourite book)

Photo by CHUTTERSNAP on Unsplash

Ketika pertama kali membaca karya sastra klasik, saya langsung berdecak kagum. Tertegun untuk terus membayangkan tulisan yang kaya metafora dan teka-teki itu. Beragam pertanyaan pun melesat, baik dari sisi karya yang dimaksud atau bahkan personal dari pengarang yang melegenda. Apa sebenarnya yang hendak disampaikan oleh pengarang? Mengapa kata-kata di dalamnya sukar sekali buat dipahami? Apakah itu masih relevan dengan masa kini? Lantas siapa sebenarnya pengarang itu, hingga membuat karya yang masih terus disesap manfaatnya hingga kini?

Untuk kali pertama itu, saya yang belum lama membaca buku buat keperluan personal, seperti membaca novel atau puisi, langsung teralihkan ke buku-buku dengan magnum opus. Salah satunya ketertarikan dengan karya-karya klasik. Sampai sekarang karya sastra klasik timur lah yang buat saya jatuh cinta; meskipun itu baru sedikit.

Sebenarnya saya sendiri bukan (atau mungkin belum jadi) pembaca yang tekun. Pembaca penuh tekad untuk melahap seluruh buku-buku yang tertarik. Pembaca yang rela sepenuh waktu menuntaskan dahaga ilmu dan berani sunyi-senyap menyusuri di jalan yang setapak. Sebaliknya: saya justru pembaca yang kerap kalah godaan. Pembaca yang menyisakan tumpukan buku urung terselesaikan. Pembaca yang kian gagal menyesap keseluruhan makna dan isi buku.

Saya tahu proses nuju ke sana itu sukar dan besar godaan sana-sini. Tapi toh, itu bagian dari proses tiap pembaca. Dan saya yakin niat itu pastilah selalu menemu jalannya sendiri.

Dari sekian (mungkin empat puluhan) buku dengan beragam genre yang saya miliki — yang banyak juga belum dibaca. Dari sebanyak buku itu, saya lebih memilih menaruh hati dan menjadikan buku favorit pada buku-buku sastra ketimbang yang lain, dan yang klasik wabil khusus. Ini tentu bukan sebab biar terlihat keren atau apalah begitu.

Mengingat pernyataan dari seorang penulis terkemuka (kebetulan saya lupa) yang bilang bahwa buku itu terbagi menjadi dua: buku-buku untuk sepanjang masa, dan buku-buku masa kini. Tentu saja saya yang membaca bukan hanya untuk menghibur diri, melainkan meraih kebermanfaatannya — meski dalam beberapa lagi lain cerita. Saya memilih buku untuk yang sepanjang masa, buku yang biasanya itu berupa karya sastra klasik dan tentu magnum opus. Seperti berikut:

Mahabbah: Kisah Cinta Layla Majnun & Yusuf Zulaikha

(Buku ini diterbitkan oleh Penerbit Javanica. Saya membelinya langsung lewat online)

Kisah tentang layla majnun ini sangatlah melegenda. Karya-karyanya pun memiliki ragam versi, dan yang saya baca ini ialah Karya Syekh Nizami dan Jami. Pertama kali membaca setahun lepas dengan kepingan cerita-cerita yang masih menyangkut hingga kini.

Buku ini sudah tidak ada dalam genggaman, karena memang sengaja dihaturkan ke teman yang sekaligus guru bagi saya sendiri.

Musyawarah Burung

(Buku ini diterbitkan oleh Penerbit Kakatua. Saya membelinya langsung lewat online)

Karya yang bertitimangsa tahun 1177 ini merupakan puisi bergaya alegori yang ditulis oleh Fariduddin Attar, penyair besar sufi yang hidup sebelum Jalaluddin Rumi. Konon karya Attar memiliki pengertian lebih dalam tentang alam pikiran sufi dibandingkan seluruh sajak dan prosa yang ada sesudah dia meninggal.

Berikut adalah contoh fragmen dari puisinya yang menurutku bagus:

Permohonan pada Muhammad

Seorang lelaki dengan rendah hati mohon perkenan untuk bersembahyang di atas permadani Nabi, yang menolaknya dengan mengatakan, “Tanah dan pasir panas terbakar di atas tanah jalanan itu, sebab mereka yang luka karena cinta harus punya bekas di wajahnya, dan bekas luka itu harus terlihat. Biarlah bekas luka hatimu terlihat, karena orang-orang yang ada di jalan cinta dikenal dari bekas lukanya.”

(hal. 125)

Tentu sangat sempit pikiran jika sajak-sajak yang dinukilkan (juga yang ada di buku itu) menganggap kata-kata ‘cinta’, ‘derita’, dll ialah perasaan seseorang kepada makhluk lainnya. Lebih dari itu, kata-katanya ialah mereguk cinta illahiat.

Kumpulan Sajak Rumi

(Buku ini diterbitkan oleh Penerbit Kakatua. Saya membelinya langsung lewat online)

Maulana Jalaluddin Rumi ialah penyair klasik Persia terbesar yang konon telah menghasilkan lebih dari tiga ribu kasidah dan ghazal. Adapun 86 sajak mistis terpilih dalam buku ini disertai catatan oleh penerjemah, sehingga sedapat mungkin memberi kita pencerahan dalam memahami kedalaman pikiran Rumi tentang ajaran Sufi.

Dalam buku yang diterjemahkan oleh penyair Hartojo Andang jaja itu, dimuat kumpulan sajak rumi yang sangat mungkin sekali membuat kita terheran-heran. Tentu kita tahu bahwa beliau adalah Sufi yang besar dan mahsyur hingga kini di sekitar kita.

Berikut kutipan sajak yang bagi saya bagus:

Ah, apakah yang ada pada lilin pemberi terang itu sehingga ia membakar dan merenggutlenyapkan hatiku?

Kau yang membakar hatiku, aku terbakar lumat, O sahabat; datanglah cepat!

Rupa hati bukan rupa buatan, karena keindahan Ilahi menampilkan diri pada pipi hati.

Tiada penguat kuserap selain dalam gulanya, tiada manfaat kukecap selain di bibrnya.

Ingatlah dia yang pada suatu subuh membebaskan hatiku ini dari ikatan rambutmu.

Jiwaku, waktu pertama aku melihatmu, jiwaku mendengar sesuatu dari jiwamu.

Waktu hatiku mereguk air dari mata airmu, hatiku tenggelam dalam dirimu, dan limpahan air merenggut-larutkan diriku.

(Sajak No. 73, hal. 115)

Karya-karya sastra klasik itulah yang sampai sekarang jadi buku favorit. Jadi buku yang selalu berhasil menggoda untuk dibaca ulang, atau bahkan saya berhasil dibujuk agar mencari teman baru buku sastra klasik yang lainnya lagi. Meski ya, seringnya — dan saya memang bicara sejujur-jujurnya — perlu waktu lama menunggu untuk dibaca. Sebab itu tadi: godaan besar sana-sini.

Saya kira masih sedikit,dan tentu bisa terupdate kembali seiring waktu. Sebab tentu saya terus akan menyusuri buku-buku, karya-karya yang lain.

--

--

Rafik NurF
Rafik NurF

Written by Rafik NurF

sedang menemui dan menemukan kejutan-kejutan dari Tuhan.

No responses yet