hari ke-14: layang-layang
(tulisan ini dibuat untuk tantangan 30DaysWritingChallenge, tahapan DAY 14: Describe your style)
“Lelaki bertubuh mungil itu baru saja mengusap wajahnya yang kerap dihujani keringat sejak siang tadi. Kedua teman lainnya, yang duduk bersebelahan itu, seakan hendak bergegas dari bawah pohon rindang di sepetak lapangan desa ini. Ya maklum, matahari terasa tenggelam sebentar lagi. Itu artinya celotehan Ibu bakal mendarat jikalau gerombolan itu tak lekas menurunkan layangannya, dan tak gegas pulang seperti biasa.”
Setidaknya narasi di atas itulah yang terlintas, ketika sore tadi pulang dan melihat layang-layang terbang sana-sini. Ya maklum, sudah berapa tahun tak menerbangkan layang-layang lagi. Barangkali waktu SMP lima tahunan silam. Dan ingatan hadir tak cukup satu-dua kali waktu di pikiran, seakan mengingatkan dulu pernah merasakan hal serupa: terlampau bahagia ketika musim layangan tiba.
Saya, yang masih senang melihat layangan terbang tinggi; menukik; berjejeran dengan layanan lain; nguil (istilah layangan yang berputar-putar tak tentu); atau bahkan mungkin putus … merasa ikut andil dalam benak bocah-bocah yang menerbangkan/memiliki layangan itu.
Sepert bagaimana rasanya membuat layangan dari ujud kerangka; dari nol hingga jadi dan siap mengudara. Bagaimana rasanya memilih kapan angin berhembus tepat ketika pertama kali ingin diterbangkan. Bagaimana dengan sigap mendengar kata: yak, burr (terbangkan), lantas melepaskan pegangan layangan dan membiarkan kawan lain menarik ulur hingga terbang. Bagaimana dengan jahil memutus layangan orang lain dengan saling menggesekkan benang tali yang dipakai. Bagaimana merasakan lelahnya mengejar layangan putus, lantas mengikhlaskannya. Atau … bagaimana melewati siang hingga sore dengan enaknya memandang layangan yang anteng dan terlihat paling stylish daripada yang lain.
Betul, layang-layang itu juga punya ragam bentuk dan dengan style yang tak jemu buat dipamerkan. Biasanya dari warna samak layangan, besar-kecilnya kerangka, penghias untuk ekor yang beraneka rupa, pelengkap bunyi nginggg di sela kepala kerangka, namanya: sawangan. Ataupun lain-lainnya lagi.
Berikut adalah contoh pelbagai macam layangan (di daerah saya) dengan gaya dan pendefinisan style:
1. Dok-dokan
Bentuk layangan sederhana; dengan sayap dan ekor yang hemat kerangka. Termasuk layangan yang mainstream diterbangkan tiap hari. Layangan ini cocok untuk anak-anak biasa karena kerangka yang tidak terlalu rumit dan jika mau beli pun harganya murah.
2. Pepetan/kelelawar
Layangan hampir mirip dengan layangan no.1, hanya saja pada ekor dipanjangkan (seperti pepet ikan) atau anak-anak lain juga menyebutnya kelewar. Panjang-pendek untuk ekor bisa disesuaikan. Tidak terlalu mainstream untuk layangan jenis ini.
3. (lupa) … ?
Bentuk layangan tidak sederhana; dengan ekor yang melengkung menyatu dengan sayapnya. Perlu teliti saat pembuatan kerangka ekor. Layangan ini cocok untuk kalangan anak yang mau berkreatifitas karena tidak sederhana tapi juga tidak begitu rumit, sih. Harga cukup merogoh kocek. Nama layangan diduga lupa. Hahaha.
4. Biasa
Bentuk layangan paling sederhana; dengan kerangka berbentuk plus (+) yang menjadikan bodinya berbentuk segiempat. Termasuk layangan yang mainstream betul. Layangan ini cocok untuk anak-anak kecil dan anak-anak yang tak mau berkreatifitas. Harganya pun hampir seperti dua kue apem pasar tradisional.
5. Pesawatan/pocongan
Bentuk layangan paling kompleks. Seperti bentuk pesawat terbang yang lengkap, atau lebih jahil lagi menyebutnya layangan poconga (karena mirip mayit barangkali). Layangan ini cocok untuk kalangan anak yang berkreatifitas tinggi karena bentuk amat kompleks dan lumayan lama pengerjaannya. Harga paling tinggi dari yang lain (tergantung ukuran juga sebenarnya).
Dari sekian ragam/bentuk layangan dengan pendefinisan style tersebut, mungkin kau sangat bisa menebak, style seperti apa yang cocok buat saya waktu memilih layang-layang? Styleku seperti apa?
Tentu dan barang tentu, bukan tipikal yang berkreatifitas tinggi. Dan juga bukan yang selalu di jalan mainstream. Pendek kata: ada di tengah-tengah. Mungkin bermaksud tak ingin memihak sana-sini. Sewajar-senyamannya saja. Mungkin untuk style-style lain pula demikian. Mungkin saja.