hari ke-15: bulan
(tulisan ini dibuat untuk tantangan 30DaysWritingChallenge, tahapan DAY 15: If you could run away, where would you go?)
Beberapa kali waktu semilir angin menyentuh ubun-ubunnya. Ia yang termenung di bawah pohon musim panas, kata orang, kali ini duduk saja memandang bulan Marly di atas stasiun: berharap seribu kereta gugur niat menjemputnya.
Ia yakin ini, bukan lagi mimpi-mimpi seperti banyak orang berkata. Ia yakin kini, adalah waktu dari sepenuh-penuh penantian di dirinya — ia tak tahu lagi bagaimana memintas. Ia hanya tahu kali ini, ia musti bergegas.
Ia tak paham mengapa kali ini air mata panas; ia pula tak tahu mengapa daun murbei itu jatuh di pelupuknya saat ia pandang bulan Marly yang cantik dan indah itu. Maka seketika harap itu pupus. Dan seribu kereta datang menjemputnya pada batas; ia pun telah lepas.
Ia, yang tengah bermustahilkan mimpi itu, tak ubahnya seperti kita. Bermesra-mesra dengan imajinasi yang pelik dan mustahil: mengapa sih, bulan begitu indah yang meski jauh tapi selalu rela buat dipandang. Mengapa sih, hujan malah mengganggu saat bulan bersinar terang tapi kita tetap menunggu adanya reda. Mengapa sih, bulan tetap menggantung di udara tapi namanya selalu dituliskan para pecinta di dingin malam. Mengapa sih, para pecinta menuliskan bulan di puisinya meski tulisannya tak pernah sampai buat yang dicinta. Mengapa sih, kita, yang selalu takut mengungkapkan puisi itu buat seseorang; akhirnya memilih diam dan terseret mengunjungi rembulan yang itu-itu saja. Mengapa sih … mengapa(?)
*cerita terinspirasi dari puisi berikut:
Di bawah bulan Marly
dan pohon musim panas
Ada seribu kereta-api
menjemputmu pada batas.Mengapa mustahil mimpi
mengapa waktu memintas
Seketika berakhir berahi
begitu bergegas.Lalu jatuh daun murbei
dan air mata panas
Lalu jatuh daun murbei
dan engkau terlepas.
(Z — Goenawan Mohamad)