hari ke-17: frekuensi

Rafik NurF
2 min readOct 17, 2020

--

(tulisan ini dibuat untuk tantangan 30DaysWritingChallenge, tahapan DAY 17: Ways to win my heart)

Photo by Jörg Hofmeier on Unsplash

“Fondasi yang utama dalam hubungan itu komunikasi, Jes, kau tahu kan apa maksudnya? ya dalam konsep hubungan apa pun, termasuk perempuan yang kau maksud itu” ujar beliau kala itu dalam perbincangan yang cukup intim dan serius. Kurang lebih demikian yang kutangkap dari rekan kerja yang sering kuberi rasan-rasan bab cinta dan sejenisnya.

Dari sekian banyaknya nasihat beliau, rekan kerja yang kumaksud, hal-hal ramah di telingaku tentu saja hanya nasihat cintaargh atawa semacamny, yang diingat hingga sekarang. Ingatan itu memang kadang ujug-ujug mampir di kepala. Bisa jadi bayangan sekelebat lekas bak asap kemenyan yang kita curigai, atau malah bisa jadi — dan memang sering, sih — membuat teringat seseorang lalu dihubungkan realita dengan nasihat itu sendiri.

Perkara cinta, hubungan, ingatan … hingga sampai pada bagaimana caranya memenangkan hati seseorang, tentu aku masih begitu pemula. Kalaupun bisa terdengar bijak, soal nasihat di atas misalnya, ya itu hanya beririsan di bagian tertentu saja dan tidak plek menjawab urusan cinta-cinta ke cinta, hati-hati ke hati dlsb begitu.

Karena memang di sini sebagai subjek sentral, mangkanya mari kita ulas bersama atau — kalau ingin lebih dekat — malah membersamai daku dalam inti persoalan kali ini, yaitu: bagaimana memenangkan hatiku ini(?)

Ketimbang memberi narasi-narasi imajinatif yang kadang terlampau absurd buat dicerna, akan jauh lebih baik kuberi point-point (sepertinya) penting. Berikut:

  • Kau hanya perlu menjadi manusia yang sholat ke arah kiblat yang sama (seperti nasihat Gus Baha). Urusan kau golongan Muhamadiyyah atau NU itu ndak penting. Tapi tentu akan lebih membuatku kepincut kalau kau dari kalangan NU & ya… bisa mengaji. (beberapa ormas tidak include, tentu kau paham lah).
  • Sosok yang, sebagaimana penampilan perempuan pada umumnya: meneduhkan.
  • Kau memiliki hasil; karya. Mungkin tulisan dengan gagasan atau imajinasi yang kreatif. Mungkin kesenian lain. Mungkin apa begitu.
  • dan ini tentu hal penting juga: kita sefrekuensi dan sejalan/seprinsip. (tentu tidak semuanya juga). Minimal kalau tidak babagan literature (suka membaca) ya mungkin babagan teknologi/pertanian/agama(?).

Tapi mungkin point terakhirlah yang sangat mungkin membuatku tertarik, untuk masa-masa sekarang seperinya.

Memang terdengar seperti kriteria jodoh, ya? Hahaha. Entahlah. Ah, aku tak paham betul perkara begituan. Tapi ketika aku membuka percakapan (dalam arti kiasannya) itu bukan berarti ya sekadar main-main belaka. Yang jelas sih, ngalir aja lah. Kayak modern love gitu.

Sudah dulu lah, ya. Tidak terlalu nyaman juga sebenarnya menuliskan hal-hal ganjil macam ini.

--

--

Rafik NurF
Rafik NurF

Written by Rafik NurF

sedang menemui dan menemukan kejutan-kejutan dari Tuhan.

No responses yet