hari ke-22: repetisi
(tulisan ini dibuat untuk tantangan 30DaysWritingChallenge, tahapan DAY 22: Write about today)
Rentetan peristiwa itu terjadi kian berulang-ulang. Hal yang semestinya dilewati dengan perasaan bahagia berbinar-binar, atau setidaknya tak perlu diludahi dengan senyum yang kecut. Tapi toh itu benar menjadi repetisi yang menjengkelkan, bagi saya kurang lebihnya.
Meski tentu ada hari yang dilewati dengan tak bersemangat & tak juga murung/sedih. Kadang seperi hari yang kelewat begitu saja. Seperti hari ini, misalnya.
Berikut adalah rentetan peristiwa yang kadang berulang-ulang itu.
Bangun (05.00)
Menyadari bahwa tak ada kokok ayam yang membangunkan, tak ada juga alarm. Terbangun sendiri pun (kadang juga dibangunkan, sih) seolah hal yang biasa. Membasuh muka dengan air kran belakang rumah. Melihat langit-langit yang masih sedikit berwarna merah dan berwudhu setelahnya.
Mengerjakan yang kemarin
Pagi ini mengerjakan tulisan #30DaysWritingChallenge yang lalu. Kemudian disambung mengerjakan tugas kuliah sedikit. Mengantar uang ke saudara.
Berangkat ke toko (konter)
Jam 08.30 lebih seperti kemarin, saya membuka toko lebih dulu dan kakak menyusul. Menata kursi dan melihat anak kecil bersepeda menghampiri lalu tersenyum. Ia membeli voucher internet sembari memberikan uang 15 ribu. Dan belum ada kuliah online ternyata.
Memutar playlist spotify (barasuara)
Seakan hari terlewat begitu hambar jika tak memutar musik. Khususnya playlist spotify dari barasuara. Hari ini cukup mendengar lagu-lagu mereka dan mood bangkit bertahap.
UTS Ilmu Sosial Budaya Dasar
Dikejutkan karena baru sadar kalau pagi ini musti mengerjakan uts ISBD. Tapi untunglah soal-soal diberikan tidak terlalu sulit. Meski mengerjakannya dari pukul 11 lebih sampai jam setengah 1 siang. Cukup yakin dengan soal-soal yang berhasil dijawab.
Mendengarkan ceramah elektronika
Meski saya dulu anak TKJ, ternyata perihal hardware saya masih demikian lemah. Tak ubahnya dengan mata kuliah satu ini. Ditambah lagi kuliah online dengan gmeet, membuat siang yang harusnya bisa dilewati dengan sedikit membaca dan melihat senyuman pelanggan, malah ngantuk mendengar ceramah matkul yang sulit ini. Ya setidaknya berusaha mencatat agar tidak begitu meremehkan.
Bergembira dengan anak kecil lucu ini
Tiada hari tanpa bergembira dan tertawa riang dengan keponakan satu ini. Ia masih berumur 3 tahun. Ini fotonya:
Memotret diri (swafoto; selfie)
Kebiasaan setelah pulang dari konter ialah berswafoto untuk keperluan #1YearSelfie. Tentu ini tantangan tak mengenakkan bagi saya. Meski kadang juga telat. Terlampau sering, sih. Wkwkwk
Maghriban dan menghadiri acara kirim doa bersama
Petang ini menghadiri acara kirim doa bersama di rumah tetangga (belakang rumah). Setelah maghrib berjamaah di situ juga, disambung mengirim doa bersama untuk anak dari keluarga tersebut yang dulu adalah teman masa kecil saya. Agenda ditengarai sebab dia (teman masa kecil saya) dikabarkan akan segera menikah pekan ini di kalimantan sana. Cukup senang mendengar berita bahagia tersebut
Kembali ke toko
Seperti biasa setelah petang. Kali ini selepas isya (pukul 07.45) langsung gegas menuju ke toko konter kakak yang berjarak 3–4km an dari rumah. Berhenti di apotek lebih dulu untuk membelikan obat pesanan saudara tetangga. Tak lama setelahnya, ternyata hujan deras. Dan pulang jam 20.45 dengan mantel, masker, serta helm serta kecepatan montor yang sengaja dilambatkan karena jalanan licin. Meski jalanan gelap dan melewati lapangan yang sepi, toh itu sudah terbiasa. Kata orang-orang sih terlihat angker. Tapi ya begitu.
Makan lagi
Setelah makan di acara kirim doa di rumah tetangga, ternyata memilih menghabiskan sate dari kakak terlihat enak.
Ketiduran
Padahal setelah makan, saya sudah membuat kopi dulu supaya mata melek dan bisa bersemangat melanjutkan tantangan tulisan. Tapi ternyata ketiduran adalah jalan cerita kehendak Tuhan. Berniat membalas pesan seseorang tapi ternyat terkubur sebab, ya itu tadi.
Hari ini, tentu sebagaimana hari-hari sebelumnya, saya tetap berujar syukur apa pun yang telah dirasa. Meski kadang-kadang itu terdengar muskil; meski terdengar memaksa. Tapi saya tetap berusaha terus untuk menikmati hal-hal itu.
Seperti melewati hari-hari pikuk dan kita tetap merasa sendiri. Seperti kita berjalan di pasar malam — yang ramai — dan kita tak tahu apakah ikut tertawa riang adalah membohongi diri kita atau tidak. Tersenyum melihat orang-orang sekitar bahagia pun jadi terasa cukup dan tak perlu memikirkan hal-hal itu lagi.
Pada akhirnya hanyut dengan diam adalah repitisi kita, karena hanya itu yang bisa kita lakukan untuk melewati hari-hari biasanya, bukan?
*nb: “hari ini” yang dimaksud adalah hari kemarin (tgl 22 okt)
(tiga hari ini ketiduran lagi. telat lagi. kelewat satu hari lagi)