hari ke-24: ombak
(tulisan ini dibuat untuk tantangan 30DaysWritingChallenge, tahapan DAY 24: write about a lesson you’ve learned)
Orang-orang mulai khawatir dengan ombak yang tengah di hadapinya. Masalahnya cukup serius. Jika orang tersebut gagal melewati ombak itu, kemungkinan paling baik cuman terseok sana-sini dan terdampar di tepian; kemungkinan paling buruk adalah mati tenggelam ke dasar lautan & tidak ditemui jasadnya.
Perihal demikian barangkali pernah kita tahu di film-film: ombak menggulung mengerikan. Sekejap saja melahap orang yang tak pandai berselancar dan membiarkannya tenggelam. Tapi untunglah itu hanya yang kita terka bersama.
Fragmen cerita-cerita itu seperti mengingatkan kita pada kehidupan. Apabila orang yang berselancar dan dihadapinya ombak-ombak yang menggulung, maka kita adalah peselancar itu dan ombak adalah masalah/problema kehidupan. Kata pak Goen, masalah adalah (kurang lebihnya) sesuatu yang dilemparkan ke depan manusia untuk dipecahkan dan diterobos.
Setelah kita memecahkan/menerobosnya kita bisa memperoleh pelajaran-pelajaran — apa pun itu — dari masalah tersebut. Seperti saat kita berhasil melewati ombak yang bergulung-gulung, kita tahu apa yang membuat kita bisa melewati itu. Kita belajar dari hal-hal demikian.
Tentu saja ombak-ombak yang dihadapi kita berguliran berbeda satu dengan yang lain. Dengan demikian, pelajaran yang didapat berkemungkinan lebih banyak didapat lagi.
Seperti halnya hidup: semakin kita menua, semakin masalah-masalah itu berdatangan. Meski toh kita tak melulu berhasil menerobos & memecahkan ombak-ombak yang kian hampir & berderet tiada usai. Kita, minimal saat mulai “mencoba” menerobosnya, paling tidak ada hal kecil yang bisa didapat — meski itu sering dilupa.
Masalah dalam hidup yang dilalui pun kita taksir lebih banyak ketimbang masalah yang urung usai. Sayangnya, tidak semua manusia adalah pencatat yang ulung. Lebih-lebih, malah kita kerap melupakan & enggan merawat ingatan akan pelajaran hidup yang didapat.
Untunglah, saya mencoba menjadi pencatat yang lumayan “ulung” itu. Kalau sewaktu-waktu lupa, ya tinggal melihat tulisan ini. Dan senang pabila dirasa pembaca liyan bermanfaat.
Kira-kira begini (selama kurang lebih 20 tahun menjejali ombak-ombak bergulung itu):
-Keterbatasan kita memahami sesama
Wejangan ini saya peroleh ialah tidak lain (salah satunya) ketika membaca kutipan dari Bumi Manusia (Pramoedya A. Toer), berikut:
Jangan anggap remeh si manusia, yang kelihatannya begitu sederhana; biar penglihatanmu setajam elang, pikiranmu setajam pisau cukur, perabaanmu lebih peka dari para dewa, pendengaran dapat menangkap musik dan ratap-tangis kehidupan; pengetahuanmu tentang manusia takkan bakal bisa kemput.”
Hidup yang seperti antrian melihat orang lalu-lalang selama ini, di mana pun, kapan pun, saya kerap meyakini bahwa: kita selalu memiliki keterbatasan buat memahami sesama; kita tak akan pernah tahu seperti apa sebenarnya orang lain. Kendati demikian, bukan berarti kita enggan peduli dan berusaha memahami yang sukar-sukar tersebut.
-Berani memilih & memutuskan
Pelajaran yang susah didapat buat orang-orang yang kerap “nggak enakan” dengan yang lain. Begitulah diri saya yang lahir memang di lingkungan konservatif & menjunjung muatan lokal. Ketika dihadapkan dengan dunia luar yang serba kedisiplinan, profesionalitas, dan sikap yang tegas, terkadang nyali ini seolah ciut & mental seakan bergetar.
Walhasil, kita selalu di posisi kegamangan. Berangkat dari situ, saya kerap mencoba buat diri saya terus memilih & memutuskan. Kita tentu perlu sifat tegas. Ilmu saja ada keberpihakannya.
-Menerima kemungkinan & berprinsip
Barangkali hampir mirip dengan satu pelajaran di atas, dan pada akhirnya kita tetap bersifat fleksibel tapi dengan prinsip yang selalu dipegang. Seperti ungkapan (kurang lebihnya): “be stubborn with the idea but flexible on details”.
-Selalu menjadi gelas kosong
Hal yang perlu disadari bahwa, kita sebagai manusia adalah bukan apa-apa dengan ilmu yang diperoleh. Sehebat apa pun kita selalu ada tersisa ruang untuk hal-hal yang tak kita ketahui, dan diketahui oleh orang lain. Nah untuk itulah kita perlu menjadi gelas kosong untuk terus menerima yang baik ketika bersama dengan orang-orang baru. Tentu dengan orang baru yang lebih mengerti apa yang kita tak mengerti. Dengan demikian, kita selalu membuka kemungkinan untuk tumbuh.
-Kenali, pahami, maklumi & berdamailah dengan “diri”
Hal paling mendasar tapi akan terus kita lakukan sepanjang hidup. Kita semua adalah pencari jati diri yang tak kenal sudah.
-Kalau tak perlu sekali, diam itu selalu cukup
Dalam hal apa pun, perbincangan atau perdebatan atau hal sepele demokratis atawa yang lainnya, diam itu bahasa yang cukup bagi kita jika kita tak ada perlu & memang kita tak mengetahuinya. Diam toh bukan berarti menerima begitu saja. Ada hal-hal lain dalam diam yang hanya bisa dirasakan ketika diam, bukan untuk orang yang selalu menjalani hari dengan hiruk-pikuk tak berkesudahan itu.
-Cerna, lakukan saja, & bergeraklah
Dalam melakukan dan menyegerakan tujuan hidup, prinsip seperti inilah yang kian penting bagi kita. Bahkan untuk memulai saja kita perlu mencerna baik-baik dulu, dan setelahnya lakukan saja. Teruslah bergerak, dalam hal apa pun lebih jelasnya.
-Kita tak pernah sama
Satu yang selalu menjadi pegangan ketika diri mulai terasa tidak berguna atau sama sekali tak ada yang buat dibanggakan (buat diri sendiri) adalah dengan meyakini betul bahwa, Tuhan selalu menciptakan makhluk dengan sebaik-baiknya dan seunik-uniknya. Dengan itulah kita tahu bahwa kita, manusia pada umumnya, selalu tak pernah sama. Meski bisa jadi bertolak belakang dalam konteks-konteks yang liyan untuk takaran atau hal lain tentu saja.
Barangkali itulah pelajaran dalam hidup yang kubawa dan semoga saja selalu diingat. Banyak sekali, ternyata.