hari ke-3: pisau

Rafik NurF
2 min readOct 3, 2020

--

(tulisan ini dibuat untuk tantangan 30DaysWritingChallenge, tahapan DAY 3: a memory)

Pria itu mencoba ke dapur. Ketika ia rasa harinya tak bermakna sebab aktifitas yang itu-itu saja. Ia mengingat ada alternatif --yang konon banyak juga orang pakai-- untuk berkunjung pada sesuatu yang bukan kini. Sesuatu yang terpisah oleh ruang dan waktu. Ia mengingat pisau.

Tak mudah, sebenarnya. Ia sedikit ragu-ragu untuk memulai itu. Terakhir ia mencobanya berujung pada sesuatu yang tidak diinginkan--meski khawatir adalah hal yang pasti dilaluinya. Ia kini coba hilangkan semua itu; ia kini guna jalan lain buat membukanya.

Mula-mula ia paham ini hanya butuh sedikit keberanian, ketenangan. Ruang bisa jadi sangat jauh; waktu bisa jadi sangat rentan. Dan keberanian menebas semuanya. Maka ia mulai menggenggam sebilah pisau itu.

Konon, orang-orang memakai pisau itu buat beragam kepentingan. Seperti, misalnya:

1. Mengupas buah-buahan segar.
Ia sadar bahwa masa kanak-kanaknya adalah buah-buahan segar. Yang ketika ia kupas, kebahagiaan tersibak luas. Waktu amat sejuk dan ruang jadi amat tentram.

2. Mengupas buah-buahan busuk.
Ia sadar bahwa masa remaja dan dewasanya adalah buah-buahan yang terkadang busuk. Yang ketika ia kupas, kebahagiaan hanya sedikit. Waktu amat sempit dan ruang terkadang gelap.

Kini, sebagaimana orang-orang pada umumnya, sang pria itu mulai terbiasa dengan pisau. Mulai terbiasa dengan ingatan. Ia kenal metafora itu.

Ingatan hanya bisa dibuka dan dikunjungi ketika kita mau menggenggam pisau. Setelah itu, kita pun masih diberi kesempatan. Ingin berkunjung ke ruang yang lebih bahagia, layaknya mengupas buah-buahan segar. Atau rela berkunjung ke ruang yang gegap gempita; waktu yang amat sesak, layaknya mengupas buah-buahan busuk.

Bahkan, sebelum memilih antara kedua itu pula, kita dihadapkan pada pertanyaan pisau kita tajam atau pisau kita tumpul. Rajin-rajinlah merawat metafora itu.

--

--

Rafik NurF
Rafik NurF

Written by Rafik NurF

sedang menemui dan menemukan kejutan-kejutan dari Tuhan.

No responses yet