hari ke-5: menua
(tulisan ini dibuat untuk tantangan 30DaysWritingChallenge, tahapan DAY 5: your parents)
Mereka kembali asyik mengobrol. Setelah melihat anaknya tertidur lelap di ranjang, kukira bakal ada adegan seperti di film-film: Ibu mengecupku sambil membenarkan selimut. Atau paling tidak salah satu dari mereka berdua mendongengiku cerita-cerita atau legenda kuno selama aku terjaga. Tapi ternyata tidak sama sekali. Ternyata Ibu adalah Ibu yang tidak ada di film-film kumaksud, yang aku pahami berapa puluh tahun kemudian. Ternyata Ibu adalah sebagaimana Ibu dari kedua orang anak pada umumnya yang juga khawatir menantikan kelahiran anak ketiganya kala itu.
Setidaknya aku cukup ingat kejadian beberapa waktu setelahnya. Aku masih berumur tujuh tahun, baru masuk kelas 3/4 SD pada 2008. Dan kakakku yang selisih tujuh tahun denganku tak ada di malam itu — atau mungkin sebenarnya ada cuman lupa saja. Malam itu malam yang dingin seperti biasanya; malam tanpa lolongan serigala; dimana banyak sekali orang lalu-lalang rela melihat kelahiran adikku yang ternyata berjenis kelamin sama dengan dua orang kakaknya. Bapak di Jakarta semasa itu. Dan dia senang mendengar kabar kalau ternyata anaknya yang baru lahir sebenarnya sudah lebih dulu masuk ke dalam mimpinya sebagaimana yang ia ceritakan samar-samar setelah aku beranjak dewasa.
Tahun berganti tahun, ketika adikku masih belum bisa berjalan, ia mengalami hal serupa sepertiku: rutin berkunjung ke rumah sakit buat berobat. Meski dengan kondisi penyakit yang berbeda, dan selama dua tahun rutin untunglah sembuh berkat Ibu yang sabar merawatnya dengan suka cita. Aku senang, bertahun kemudian lagi ia tumbuh dengan ceria sebagaimana kawan-kawan sejawat lainnya. Bersama diriku yang tiap kali bermain ke manapun ia mengikuti. Paling tidak, hubungan adik-kakak yang cukup dekat itu bisa bertahan sampai aku memasuki masa SMK.
Malam berganti malam, pagi bergulir masih dilalui dengan sinar matahari di ufuk timur. Dengan udara dingin yang sebenarnya tak dingin-dingin amat, di pelosok desa yang sampai saat ini masih bersahaja. Renovasi rumah tak terhitung berapa kali hingga saat ini. Ternyata kami memiliki suasana keluarga yang baru lagi dan kesunyian baru lagi. Nenek sudah tiada dari tiga tahun lalu. Bapak masih setia dengan perantaunnya. Kakak menikah dan dikaruniai anak yang begitu lucu. Ibu pergi ke luar kota juga buat bekerja. Dan adikku masuk ke pondok yang dulu juga aku pernah menimba ilmu di sana. Sedang aku di sini masih tertimpa sunyi dengan segala kekhwatiran akan hidup. Kuliah, dan merepotkan orangtua lagi.
Tentang Bapak dan Ibu
Hubungan kami: aku dan saudara-saudara kandungku, baik-baik saja. Kami juga jarang bertengkar, kalaupun iya biasanya hanya masalah sepele, kecil dan kadang cuman diam. Lalu di antara kami pun senantiasa pasti ada yang mengalah. Mungkin itu yang begitu terasa diwariskan oleh kedua orangtua kami. Sebab, sampai sekarang aku tak pernah melihat — dan tentu juga tak pernah mengharapkan — orangtua kami bertengkar atau saling membentak sebagaimana cerita di teve-teve itu. Kalaupun mereka tak cukup akur (pernah suatu ketika Ibuku bercerita), hanya berlalu beberapa hari saja dan mereka tak pernah sengaja memperlihatkan hal yang kurang baik itu ke anak-anaknya — setidaknya itu yang kutangkap.
Di antara kami memang tak ada yang memiliki hubungan khusus lebih khusus, misalnya: adikku ke ibu atau aku ke bapak atau kakakku ke bapak, dan sebaliknya. Kurasa kami dilimpahkan kasih sayang oleh mereka dengan cukup adil. Tak pernah membeda-bedakan antara aku dan saudara kandungku atau sebaliknya pula. Aku kerap bersyukur untuk itu.
Bapak dan Ibu berasal dari kota — oh maaf, kabupaten — yang sama: Purbalingga. Hanya berbeda desa dan bahkan masih satu kecamatan. Jarak antara rumah ibuku dan bapakku kira-kira lima atau enam kilometer. Bapak anak pertama dari (sepertinya) lima bersaudara. Sedang Ibuku anak terakhir dari lima bersaudara. Mereka terpaut umur (kalau tidak salah) tujuh tahun. Ibu bercerita kalau ia menikah saat umur sembilan belas tahun. Dan sepertinya juga kalau tidak salah mereka dipertemukan saat sama-sama merantau di kota Jakarta — seingatku sih, begitu.
Ada yang bilang, sifat/karakter bawaan lahir anak lelaki itu cukup dekat kaitannya dengan seorang bapak. Merasa demikian, aku juga berani bilang kalau kegemaranku pada buku/kaitannya dengan ilmu juga tak bisa dijauhkan dari sosok Bapak. Meski kami tak punya ruang khusus buat menyimpan buku, atau rak buku seperti itulah. Tapi di beberapa sudut ruangan rumah kami ada buku-buku juga. Meski buku-buku itu juga seperti panduan sholat, primbon, atau buku keagamaan lain, dan tidak banyak. Aku kerap bersyukur kalau Bapak juga mencintai ilmu pengetahuan. Sebab, meski beliau bukanlah lulusan SMP akan tetapi pengalamannya luas, dan tentu saja mau menyempatkan membeli buku buat anak-anaknya di rumah. Dan mereka dengan sangat semangat mau membiayai anaknya sampai kuliah ini.
Kini mereka semakin menua. Banyak hal yang sangat ingin diutarakan. Mungkin nanti, mungkin esok atau kapanpun. Selebihnya hanya menunggu waktu-waktu dan keberanian buat mengungkapkan.