Menerawang dan Menembus Tragedi
—now some of us are weak and some endure.
Delapan hari yang lalu, jika dihitung semenjak hari ini, usiaku beranjak ke angka 21. Masih bisa bersantai di hari yang terik, menikmati kopi, melihat matahari tenggelam, dan menggumam apa pun yang terlintas dalam benak. Kalimat pertama tentu bisa ditulis lebih singkat dengan “Hari ini usiaku beranjak ke angka 21 …”, tapi aku tidak melakukannya.
Barangkali karena aku terlalu malas untuk menempatkan apa pun tepat dalam moment. Barangkali pula, sepuluh hari yang lalu Sang Gusti belum menginginkan hamba yang satu ini dilumat oleh tragedi. Hingga sampai sekarang, mencoba menuliskannya dalam kondisi yang tidak lebih baik dari sebelumnya.
… tapi aku tidak ingin menuliskan ini seperti sebuah “drama”. Barangkali benar untuk bagian mengalami nasib yang buruk. Tapi tidak dengan tokoh memiliki kualitas-kualitas yang baik.
“Sabtu (08/01/22), siang sekitar pukul 12.30 WIB seorang pemuda yang melintas di Jl. Pakis, Delanggu, Klaten. Dengan ciri-ciri sbb: bertubuh kurus, berambut gondrong, mengenakan jaket denim, helm full-face, dan mengendarai sepeda motor Beat biru [maaf menyebut merk] … mengalami kecelakaan tunggal di dekat lampu merah. Suasana jalan raya mungkin tidak cukup padat, tapi beberapa kendaraan roda empat melaju dengan kencang layaknya di jalan tol. Sangat mungkin untuk terlindas truk, tertabrak oleh pengendara lain, atau dibiarkan begitu saja sampai tertelan suara lengkingan klakson. Untunglah seorang pria paruh baya pemilik toko tambal ban ATMA menolong pemuda tersebut, meski dalam keadaan yang mengenaskan: celana jeans koyak dan menyisakan lecet-lecet di bagian lutut dan tangan, tubuh yang lunglai karena kesadaran yang terlambat. Korban sempat bingung dan baru mengerti kalau dirinya mengalami kecelakaan setelah pria paruh baya tersebut menjelaskan kejadiannya.”
Aku bisa saja dilumat tragedi hari itu … atau singkatnya: mati dengan keadaan yang mengenaskan. Kalau saja mati muda bisa dikatakan mengenaskan, alih-alih menjadi legenda layaknya Kurt Cobain. Tapi toh saya bukan musisi. Bukan pula selebgram yang ketika terkena musibah linimasa penuh berita-berita duka dan dukungan dari warganetizen +62.
Tetapi, bukankan jika mati muda di 2 hari sebelum berumur 21 ditambah kecelakaan tunggal karena mengantuk ditambah lagi memiliki tanggung jawab yang belum terentaskan, bisa disebut mati dengan keadaan yang mengenaskan? Aku pikir begitu. Tapi toh Sang Gusti belum menghendaki.
Tragedi barangkali berjalan perlahan. Pelan-pelan seperti kejadian tanggal 1 januari lalu. Ini memang benar terjadi hari itu. Sialnya, cerita ini hampir sama: akibat daripada kelalaian sendiri. Kecelakaan dengan menabrak belakang truk. Saat itu, aku perlahan menabrak bokong truk, hingga terjatuh. Waktu itu aku sadar benar akan menabrak. Dengan perlahan.
Namun aku juga yakin, di sisi lain tragedi berjalan secara tiba-tiba, bisa dengan cepat memperlihatkanmu langsung di depan mata — tapa tanda-tanda. Itu terjadi seperti hujan yang cepat turun tanpa mendung; seperti pelangi yang lekas datang dan lekas meniada; mungkin seperti kenangan yang hanya datang ketika hujan dan pergi setelah reda.
Benar memang saat itu tragedi datang tanpa permisi. Seperti tragedi yang kusebutkan di atas: kecelakaan karena mengantuk. Rasanya seperti baru saja mengedip karena badan cukup terasa lelah, tiba-tiba sudah dibangunkan oleh seseorang yang tak dikenal lalu merasa sakit karena luka jatuh di mana-mana. Rasa sakit pun segera menjalar. Ini memang bukan luka pertama ketika jatuh dari kendaraan bermotor. Tapi ini barangkali yang tersakit dan terhaduh sampai cukup menghabiskan wang untuk berobat. Berobat luka lecet, pijat-urut tangan yang terasa pegal, & motor yang perlu dibetulkan.
Rasa sakit menjadi berkali lipat karena melihat biaya yang tak tanggung-tanggung. Ditambah kurang lebih 2 hari setelah kecelakaan berlangsung, smartphone saya juga terkena tragedi. Hadaah, nyeri!
Kini, sudah 1 minggu lebih setelah kejadian itu, aku rasa cukup membaik. Luka-luka telah kering. Tak ada yang perlu dicemaskan! Hanya saja … smartphone ******* itu sampai sekarang masih saja belum ada tanda-tanda akan kembali seperti semula. Tapi, ya, sudah & so it goes.
Oh, tahun yang berat, kau sudutkan aku.