Pandemi, Cinta, dan Kegelisahan Lainnya
Di malam, malam yang gelisah ketika aku tak pernah selesai membaca sajak-sajakmu; malam yang tiba-tiba mengecil jadi larik terakhir puisi damai yang pernah kuterima; malam yang kata orang-orang jadi ritus setelah menyitir kata-kata paling terang yang dibisikkan rembulan padamu. Aku cuma tertegun, lantas bertanya pada cermin: apakah aku cukup layak mencintai, atau maaf, dicintai(?)
Aku selalu merasa tak pernah beruntung menebak dan menerka apa yang ada di pikiran seseorang; apa yang aku ingin mengerti tapi tiba-tiba cukup dikuburnya dalam metafora. Keraguan jadi bahasa paling mengerti ketika ruang-ruang terasa makin sempit. Atau malah, apa aku masih di depan pintu?
Entahlah. Aku rasa, di antara hal-hal demikian, aku ingin belajar tanpa pamrih dalam upaya-upaya apa pun. Aku ingin belajar hening. Aku ingin susut dari praduga. Aku ingin selalu merasa tak pernah berkorban apa-apa. Aku ingin belajar menunggu dengan kedua tangan yang menggenggam. Aku tak ingin berjumpa pada ragu.
Jauh, jauh sebelum malam itu, di malam-malam selama pandemi aku pernah coba menuangkan kegelisahan-kegelisahan lain. Kadang-kadang gelisah itu bisa dengan mudah menggerakkanku menyelesaikan puisi, celotehan berbunga & berbusa di media sosial, dan mengutarakan perasaan ke seseorang yang nyatanya gagal.
Kadang pula, gelisah itu seperti yang selalu tak pernah selesai (atau mungkin sebenarnya aku yang malas saja melanjutkan? hmm) ya contohnya tulisan ini:
Betul, draft itu kutuliskan berbulan-bulan lalu, tepat ketika malam bertanggal 16, sebulan setelah aku berteduh kembali ke rumah. Draft yang kujanjikan semalam itu rampung, tigabulan setelahnya rampung, limabulan setelahnya rampung … tapi akhirnya omong kosong belaka.
Hingga tercetuslah (setelah 8 bulan ini) untuk benar-benar melanjutkan draft itu. Meski judulnya tak sama lagi, tapi intinya sama sih: tentang pandemi dan kegelisahan.
Banyak sebenarnya yang bisa dan nyata ada kutuliskan tentang gelisah atau sedih di masa-masa yang cukup sulit ini. Tapi biarlah, biar cerita-cerita itu terbang dengan angin malam yang kadang aku bisikkan tak sengaja.
Selama lebih dari delapan bulan ini tentu banyak dirasa, disesap, dinikmati ada dan ketiadaannya. Hal-hal yang benar mengagetkan. Kadang cuman bisa mengelus dada karena ketidakberdayaan. Kadang terpaku di malam-malam panjang: berpikir bagaimana nanti hidup; apa sebenarnya yang Tuhan sedang ajarkan; kapan ini bisa selesai; apa aku bisa melewati ini dengan tetap membawa harapan?
Dan sampai saat ini untunglah pertanyaan-pertanyaan itu bisa cukup terjawab dengan beragam pertanda. Mungkin soal “kapan pandemi selesai” belum terjawab. Tapi perihal apa yang sedang Tuhan ajarkan, apa aku bisa melewati ini dengan secercah harapan … mungkin aku sedikit mengerti apa dan kenapa. Ya, dengan “pertanda itu”.
Aku ingin bicara banyak, tapi sepertinya beberapa orang tak suka jika “banyak omong”. Aku rasa aku akan menghindar dari banyak omong itu lagi. Maka sampai di sinilah, sepertinya aku merasa cukup.
Dan gelap pun jatuh, angin makin menderu, becek jalan akan sabar memantulkan cahaya rembulan ke sudut-sudut rumah. Di saat-saat itu, mungkin kau bisa bertanya pada rembulan di atas kotamu: metafora apa lagi yang bisa kutuliskan, agar seseorang mengatasi keragu-raguannya itu?
*seharusnya tulsian ini telah terbit kemarin malam. tapi, seperti juga cinta: apakah seharusnya juga bermakna seharusnya?