Puisi-puisi yang Dilahirkan Semasa Pandemi, Lagi

Rafik NurF
5 min readAug 28, 2020

--

Photo by Mario Rodriguez on Unsplash

Sebermula keadaan itu baik-baik saja, sampai…

(sudah sepantasnya kita tak perlu memikirkan hal-hal yang terlalu naif itu; bahwasanya berpikiran, coba saja tidak ada Pandemi, pastilah…)

Kita buang pikiran itu jauh-jauh. Hidup seolah mak-dheg. Lah kok, kita sudah sampai setengah tahun(dihitung dari saya di rumah) saja menghadapi Pandemi ini. Yang ada, karena kita berpikiran positif dan berprasangka baik, kita perlu tetap berjuang seperti apa pun keadaannya.

Beberapa waktu lalu, melihat & terbayang-bayang sebuah cuitan Tweet di salah satu akun personal (@el_nonymous, kalau tidak salah). Begini: “Kau tumbuh di tanah yang kering dan tandus. Berhentilah bersikeran menjadi mawar. Tegak dan jadilah kaktus”.

Kita pun beralih, dari yang ingin harum dan molek di mata orang lain menjadi yang tegak; seperti kaktus. Ah, toh saya berpikir kemudian, hidup ya tak perlulah melihat (selalu) ke arah orang lain. Apalagi pencapaiannya. Jangan iri, tambah demikian saya lagi.

Sama halnya dengan Pandemi ini. Maksud saya, tentang keadaan mental, kewarasan, stress, jenuh, dll dlsb. “We are not in the same boat”. Begitulah sekiranya kalau di cuitan-cuitan yang saya ingat betul sampai hari ini.

Kita sama berbeda perihal finansial, siklus pertemanan, kebahagiaan, bagaimana bersikap ketika sendiri dan banyak lain hal. Tentu. Apalagi membincang soal “pandemi” ini, yang sangat tidak sedikit membuat banyak orang berkeluh-kesah.

Beda orang, beda penyikapan akan penyampaian berkeluh-kesah itu. Satu dari sekian kawan, memilih memamerkan kemewahan hidup & kebahagiaannya di Instagram. Sebenarnya sah-sah saja. Tapi, cara saya jauh berbeza lagi.

Di kehidupan yang baru menjemput saya, yaitu kesustraan (meski masih awam begitu awam sekali). Lebih tepatnya, Puisi. Saya seolah merasa yaqin, bahwa dengan puisi, apa pun prosesnya, perlu pengolahan batin. Yang lagi, yang lebih dalam lagi. Oleh karena itulah, di enam bulan pandemi ini saya menghasilkan sejumlah karya (Puisi). Di sini saya tuliskan enam biji saja. Beberapa di antaranya sudah ada yang pernah dimuat di laman web. Beberapa lagi belum. Satu di antaranya pernah memenangkan lomba cipta puisi bertemakan air mata (peringkat ke-6 dari 1800an naskah lainnya). Tapi toh, saya tidak ujub. Bahkan saya sering gagal menceritakan makna-makna itu dalam puisi saya sendiri. Tapi tak apalah…

Berikut puisi pilihan saya yang ditulis saya semasa pandemi ini, lagi.

Cinta Itu Lagi-lagi Memang

cinta itu lagi-lagi memang
mengejutkan. bisa jadi kadal
atau ular, di semak belukar.
pada bising bisik wabah dalam hari-
hari yang mulai kau tinggalkan, seketika.

-

cinta membenamkan wajahku ke deras arus
pada punggung air terjun
yang kau datangi penuh batu-batu,
percikan buih yang membisik: hancurlah-
hancurlah keringat yang bersemi di wajahmu itu.

-

cinta menenggelamkanku seribu harap
di wajah, seperti pada alun
denting piano komponis yang tuli;
serupa kanvas yang tegang
dicoret habis-habis oleh
tuannya, tulang tak utuh yang diberikan
ke anjingnya.

-

cinta memberikanku warna sepia
tapi aku namai jingga siluet
senja, pada pekat hitam
pensil alis yang dihamburkan
seorang nona
di dingin kota.

-

tapi cinta memintaku untuk
keluar: di malam yang dingin,
nafas yang kental, kantuk yang tertahan
pada detik, hujan yang berkali-kali
mengetuk,
sebelum kita bertanya, mengapa?

-

dan cinta itu lagi-lagi
memang, membuat kita gamang, tak ada yang lekas
tak ada jeda — dalam waktu, seperti bunyi
tik:
buat kita cemas,
yang selalu
dilanjutkan.

(Purbalingga, Maret 2020)

-

-

Euforia

1.

Kau bersembunyi saat air mata yang mengucur
telah lama tak kau usap, setelah seorang hadir di hidupmu.
Yang kau rasa hanya sebuah keganjilan,
atau omong kosong, atau apa saja.
Sesaat setelah kau tuliskan
dengan kristal yang bersemi di matamu, dan pena
yang kau asah untuk menuliskan kisah.
Kau menari di keheningan
dengan bayang tak sudahnya,
- seolah begitu bahagia.

-

2.

Angin malam berhembus saat gaunmu terhentak
dua langkah di depanku dan kali ini aku terjatuh.
Aku menjatuhkan senyum
yang tak habis di pemukiman wajahmu
kini kita bersama, di bawah rembulan malam
dan dekapan yang sama.
O, kau yang berdansa di serambi malam..
Bisakah kita memulai kisah ini sebagai sepasang penyair?

-

3.

Tapi kisah kita hanya bisa bermula, tandasmu.
di musim yang terakhir.
“Tapi bukankah kita juga penyair?”, Katamu.
“Tapi ini fana, kau selalu berpesta tak sudahnya”, Jawabku.
(saat itu malam makin kuyuh di hadapan wajahmu yang teduh
dah lagu penghabisan itu berhenti, lantas kuseka air matamu)
sementara kita tak akan berbahagia
meski bersama,
di musim yang terakhir.

(Purbalingga, April 2020)

-

-

Wabah dan Kehilangan-kehilangan Lain

Guratan nasib seperti berdentum
di antara raut muka
akhir-akhir ini: teriak wabah.

“Tak ada kesendirian, tak ada lafal
untuk menahan fajar dari barat,” ajal menjadi
wewangian yang tak sempat disesapnya.
Ajal menjadi tak berarti.

Orang-orang mengurung diri, membuat
dirinya menjaga orang lain.
Seperti luka, seperti kehilangan
tapi kehilangan –kau pikir, bukankah ajal?
teramat dekat, yang sering kita lupa
akhir-akhir ini.

(Purbalingga, Mei 2020)

-

-

Membaca Sejarah Air Mata

/Qays Kepada Layla/
Anak adam mana yang tak sedih mendengar kisah kita
Layla? Delapan ratus tahun sudah kalam ini tersampaikan.
Bahkan saat pengarang kita berdebat siapa di antara kita
yang menjumpa kebakaan itu lebih dulu. Tapi mengapa,
ia tak melihat nisan kita, Layla. Nisan kita yang berderai
air mata hingga zaman dan musim ini berganti?

-

/Orpheus Kepada Eurydice/
Lihat, Eurydice: keraguan selalu menemu lubangnya
sendiri. Kau ingat, saat batas menjemputmu ternyata
lira ku tak henti mengisahkan kedukaan kita pada bunga-
bunga di hilir sungai itu. Dan Hades tak membasahi pipinya
dengan air mata kita lagi –karena itu, Eurydice.

-

/Romeo Kepada Juliet/
Mengapa takdir selalu menyelipkan belatinya dalam
dada kita, Juliet? Meski cinta mematangkan kehendak
dan dicintai adalah keberanian yang dilahirkan. Tragedi
kau bilang, adalah suatu yang pasti. Tapi takdir
menuliskan kita seutuhnya, seperti soneta
yang sempurna dengan air mata.

(Purbalingga, Juni 2020)

-

-

Aku Akan Memandangmu dan
Kita Tak Akan Pergi Ke mana-mana.

Aku akan melihat gugusan bintang yang mengabur di udara ketika percakapan kita bersembunyi dan bulan bersikukuh meminta lolongan serigala melepas lidahnya kemudian menyuruh melipat bayangan mereka di balik bukit-bukit sementara kita tak akan pergi ke mana-mana.

Aku akan terjaga ketika subuh meminta kita berhenti menciptakan percakapan yang dingin sesudah kita tahu di jalan banyak sekali serigala menelan lidahnya sendiri mereka tak kuat menjaga anak-anaknya untuk tidak menyakiti orang-orang yang tak bersalah dan saat itu pula kopi kita dingin sementara kita tak akan pergi ke mana-mana.

Aku akan memandangmu dari hangat semburat cahaya di balik jendela dengan kata demi kata yang tak terucap oleh puisi-puisi lama selagi kita tengah berjalan pada metafora yang hilang pada imaji kita tentang kopi yang dingin dan senyap bersama lolongan serigala di baris puisi yang kita tulis sementara kita tak akan pergi ke mana-mana.

(Purbalingga, Juli 2020)

--

--

Rafik NurF
Rafik NurF

Written by Rafik NurF

sedang menemui dan menemukan kejutan-kejutan dari Tuhan.

No responses yet