Puisi untuk Purbalingga bagian I (Fragmen: sebelum Purbalingga)
Bulan Februari kemarin — tepatnya tanggal 29 sebagai deadline pengumpulan, komunitas Katasapa Purbalingga menyelenggarakan sebuah event undangan penerbitan Buku antologi puisi, dengan sebuah tema “Purbalingga Kita”. Sebenarnya brosur undangan itu sudah saya terima sejak bulan Januari lalu. Akan tetapi, seperti biasa, saya mengumpulkannya di waktu-waktu akhir (sekitar jam 5 sore) dan saya baru mengirimkan naskahnya ke email penyelenggara.
Tentu itu bukan berarti saya sebagai orang pemalas dalam banyak hal (hmm ngeles terus), ini disebabkan aktifitas sehari-hari saya sebagai mahasiswa dan yang lebih penting adalah untuk menulis puisi diperlukan waktu dan kontemplasi yang lumayan besar. Apalagi ini adalah puisi yang cukup panjang — tentu yang pernah saya tulis, dengan nilai sejarah dan budaya yang dibawa. Setelah seharian penuh dan malam hari sebelumnya saya menulis puisi ini, akhirnya jadilah puisi tersebut sebagai karya yang menurut saya terbaik (sepanjang saya menulis puisi waktu itu).
Ada lima judul puisi yang saya tuliskan di naskah tersebut. Tiga di antaranya sudah selesai (belum dengan editan) di bulan Januari lalu. Dan dua terakhir saya tuliskan di bulan Februari. Lima judul itu adalah: Patung Sang Jenderal, Teralienasi, The Mendoan Girl & Fragmen: sebelum Purbalingga, dll.
- Pada bagian I — yang bisa dibaca di artikel ini, puisi itu berjudulkan Fragmen: sebelum Purbalingga.
2. Pada bagian II, puisi saya berjudulkan The Mendoan Girl
3. Pada bagian III, puisi saya berjudulkan Patung Sang Jenderal
Awal ketertarikan saya terhadap sejarah purbalingga — juga pertama kali terhadap desa Onje, sebenarnya belum terlalu lama. Itu dibuktikan ketika saya sendiri mengunjungi desa tersebut dengan teman saya (berbulan-bulan lalu). Waktu itu memang saya sudah berumur 19 tahun, tapi belum tahu betul bagaimana sejarah Kota kelahiran saya ini terjadi (sungguh malang).
Hal ihwal mengenai puisi tersebut adalah:
- Berjudul Fragmen, yang berarti sebuah cuplikan cerita.
- Menggunakan alusi seperti di cerita nyata (spt, Syech Bakir, Ki Tepus Rumput, Ki Onje Bukut, Ki Kantharaga, dll itu memang benar ada menurut sejarah).
- Membuktikan leluhur purbalingga ada sangkut pautnya dengan Jaka Tingkir (Sultan Pajang).
- Penutup puisi di bagian ke V , menurut saya sendiri kurang mendapat gema (kurang penyelesaian yang epik). Sebab waktu itu lumayan terburu-buru karena deadline.
Pada intinya sejarah desa Onje sudah ada jauh-jauh hari sebelum sejarah purbalingga. Dan wah! saya sudah menuliskan puisi tersebut dalam versi singkatnya.
Hal yang perlu saya sampaikan adalah di puisi tersebut tidak sampai menjelaskan bagaimana sejarah Adipati Onje II (Ki Anyak Rapati) sebab di situ judulnya saja sudah Fragmen: sebelum Purbalingga. Dan itu juga Fragmen, yang berarti sebuah cuplikan. Jadi penulis sendiri tidak terbebani sendiri karena sejarah (babad Onje) yang konon tidak habis diceritakan dalam satu malam.
Fragmen: sebelum Purbalingga
— untuk Ki Tepus Rumput
I
“Pergilah kau ke pengalasan kulon, buat sebuah peradaban
dan beranak cucu lah di sana!” Syech Bakir memerintah.
-
lalu ia pergi dengan istrinya,
pertapa adalah dirinya yang lain, dan maut
datang membuatnya sendiri sebelum titah
meski tak seorangpun mengenal riwayatnya.
-
Wajahnya pucat-pasi, tubuhnya kurus tak terurus.
Namun pada langit, jelas pada langit
ia memohon, untuk nasib jadi baik.
-
-
II
“Gusti, paringono …”
Dan suara berguncang, dari getar
bibir lelaki itu, setelah hujan dinihari.
Kemudian tebing menyahut:
Tanah dan nama, sedang disiapkan
untuk kejayaan.
-
Lekas kabut memiuh tubuhnya tuk berjaga
di sebuah batu;
pada pohon jati yang mewangi.
-
“Bertapalah kau di wetan Gunung Slamet,
Dewa sedang menyiapkan sesuatu untukmu,”
gumam sebuah bayang, dengan jubah yang lusuh,
setelah tengadah dari kisut tangan di muka, ia tersadar
bayangan itu adalah leluhurnya: Ki Kantharaga.
-
-
III
Hari berdenting pada fajar, lalu ia terhempas
oleh kokok ayam. (mungkin juga angin)
Sebuah lisus merayap, di tubuh dinginnya, juga kabut
dengan lindap hutan yang ia seberangi.
-
Peta tak pernah ia pakai, namun jalan
menuntunnya bertemu Ki Onje bukut.
-
Pohon burus tumbuh seperti ilalang –begitu subur
dan bunganya menjadi tafsir untuk sebuah desa.
Dengan Ki Onje Bukut dan Ki Kantharaga, juga ia
seketika “Onje”, begitulah mereka menamainya.
-
-
IV
Setelah bertapa di lereng-lereng bukit ,
juga di tempuran telu sungai paingen.
Wisik datang sekilas seperti maut,
hanya sekilat maut, sesudahnya tak ada.
-
“Carilah Cincin Emas Bermata Merah,
kemudian hadiahkanlah ke Sultan Pajang,”
Wisik itu ia patuhi seperti perkataan seorang ibu.
-
Ketika matahari hampir habis,
dan ia hendak memotong senja,
cincin itu ditemukan di sebuah sumur. Ia mungkin paham,
mungkin juga tak paham. Lantas ia bergegas ke arah timur,
ia bawa cincin itu kepadanya.
-
“Aku terima cincin Soca Ludira ini darimu,
sebagai sayembara,” Sultan Pajang menaruh hormat
padanya. Saat itu memang, tak ada pilihan, tak ada alasan,
dan sayembara adalah sayembara.
-
Sepetak wilayah dan sebuah gelar; juga seorang selir, jadi subtil.
Ia kembali ke desa dengan harap: peradaban & keturunan.
-
-
V
Padi-padi menguning, pohon belimbing tiga rasa,
pepohonan aren tumbuh menjulang,
dan sayur-mayur menghijau. Juga desa itu,
nampak menjadi, sebuah peradaban.
-
“Ki Ageng Ore-ore”, gelar itu diperolehnya
lantas menjadi Adipati Onje pertama, sementara
anak dari selirnya: Ki Anyak Rapati
menjadi Adipati kedua, dan terkenal. Tapi ia tak menyoal.
-
Adipati Onje II itu, menikah ketiga kalinya, setelah
menyesal. Tapi menjadi wejangan buat keturunannya,
dan ia musti bersyukur mempunyai dua anak
yang berbeda watak: Ki Wangsantaka & Ki Arsantaka. Kelak
keduanya sama berjasa buat tanah leluhurnya, juga keturunannya.
-
Ki Wangsantaka, buat desanya membudaya
dan tak tunduk meski diancam oleh Belanda.
Sementara Ki Arsantaka, membuka masa depan
dan menjadi tonggak leluhur,
para pemimpin Purbalingga.
— Surakarta, 2020