Puisi untuk Purbalingga bagian II (The Mendoan Girl)
Wah bau-bau makanan nih! Eits, tapi jangan kencot (baca, lapar) dulu slur. Pada puisi untuk Purbalingga bagian II ini saya akan menyampaikan beberapa hal ihwal, juga puisi yang sudah pernah saya kirimkan untuk event Penerbitan Buku Antologi Puisi “Purbalingga Kita”, seperti pada artikel pertama dalam tajuk Puisi untuk Purbalingga ini, (Fragmen: sebelum Purbalingga).
Kemudian puisi selanjutnya (yang ketiga) ada (Patung Sang Jenderal).
Di puisi ini penulis bercerita tentang seorang asing (penjelajah) dari negeri seberang yang tengah mengunjungi Indonesia, khususnya di Kota kelahiran penulis: Purbalingga. Di situ penulis mencoba menarasikan seorang lelaki (turis/pelancong) yang baru saja mendarat di bandara: Wirasaba, dan tampak kelelahan juga kelaparan di depan tugu jenderal soedirman purbalingga.
Kemudian pada baris ke-3 bait pertama: Seperti tujuh puluh dua tahun silam tetuaku menggiring orang- // orang di sini dengan bedil. Dalam situasi tersebut saya mencoba menjelaskan bahwa memang 72 tahun yang lalu (dihitung dari tahun ini, 2020) yang berarti pada tahun 1948, ada sebuah peristiwa tentang perlawanan rakyat purbalingga kepada penjajah yang pada waktu itu adalah Belanda.
Lantas ia teringat masakan yang pernah ia dulu temui ketika bersama kakeknya dulu ketika masih menjajah tempatnya mendarat itu. Kemudian ia melangkah ke sebuah warung yang di dekat pasar Segamas; ia memasuki sebuah warung mendoan (Makanan khas banyumas raya). Dan ia bertemu dengan gadis cantik sayangnya dia tidak mengerti bahasa ngapak (aksen jawa untuk orang banyumas) dan sang gadis pun juga tidak tahu bahasa sang pelancong tersebut. Dan seterusnya dan seterusnya. Sila, tafsir sendiri.
The Mendoan Girl
Burung-burung berkicau merisaukan kedatanganku layaknya
memandang pelancong yang bengis, di bandara Wirasaba.
Seperti tujuh puluh dua tahun silam tetuaku menggiring orang-
orang di sini dengan bedil. Kini hanya nama itu yang terselip di
buku-buku sejarah milikmu. Hanya nama itu yang kau ingat
sebagai orang-orang biadab.
-
Dua puluh menit tubuhku telah sampai di depan tugu sang
Jenderal. Lemas, genderang lapar bertabuhan, menyeret lunglai
langkahku diburu waktu. Sepasang mataku memandang ke
sebuah pasar: Segamas. Bau penciumanku masih setajam elang
mengingat masakan khas di negeri ini, di daerah ini.
Pula wajahmu, dan sayup suaramu.
-
“Mas, mendoan doyan?”
-
What do you mean, girl? Speak in Indonesia, please. Kau seperti
tak paham bahasa orang jauh. Kau terdiam, seperti burung
bermata basah yang enggan terbang dari musim, dan keringatmu
sehangat matahari pagi jatuh menitik di daftar menu yang
engkau sodorkan, lalu memberi telunjuk.
-
“Kak, mau makanan terenak di sini?”
-
Aku mengangguk, bak pohon palma tersimpuh angin dingin.
Setelah sepuluh menit dan dua puluh hentakan kakimu,
terompah terdengar, seperti hamburan pasir dalam gelas waktu
yang ritmis. Engkau mengayunkan kakimu bak cinderella dari
penggorengan menuju meja nomor empat kosong empat menuju
ke hadapanku.
-
Saat itu kau memandangku seperti di rak buku sejarah, kau kaget
saat tangan halusmu kupegang dan wajahmu kupandang, terlihat
dinding-dinding langit wajahmu tak lagi basah. Namun, dengan
keras kau berteriak: “dasar asing biadab!”
— Surakarta, 2020