Sebagai Pengendara yang Gegas, 2020 adalah Lalu-lintas yang Lengang, & Kita Sama Berani Buat Berhenti
Siang itu terik memang benar tengah menyelimuti. Sepanjang jalan (seperti pada gambar) membentang begitu lengang. Dan itu semua adalah kabar yang betul-betul tak biasa. Aku, sebagai pengendara yang tengah gegas lewati lalu-lintas ini hanya berpikir: terus melaju, melaju, dan melaju. Namun sayangnya tidak demikian.
Kira-kira baru 1/6 perjalanan aku melaju & berharap hal-hal baik bergulir datang. Tiba-tiba terik berganti hujan deras yang tak pernah aku perkirakan sebelumnya; sedangkan aku benar-benar tak pernah mengerti mengapa. Aku hanya mengikuti jalanan kosong di depan, cahaya yang belum meniada, jejak angin yang berhembus meliuk menerpa rambut-rambut — yang juga seiring perjalanan tumbuh & terus tumbuh di kepalaku.
Baru ketika berbondong-bondong burung itu mengiringiku perjalananku — yang terbang di sela pepohonan & tiba-tiba berhenti kemudian berkicau — aku baru tahu: kita semua memang sama diperintahkan buat berhenti, sementara waktu. Dan aku pun hanya bisa terdiam & berhenti sesuai kehendaknya; sebagaimana pengendara-pengendara lain, di jalan lain, di waktu serta kesempatan yang juga lain.
Sejenak aku menyandarkan begitu banyak-banyak harapan & tujuan, sementara ini aku hanya bisa duduk, termenung, mengisi kekosongan di jalanan yang telah entah. Tapi aku rasa memang ada angin yang begitu-begitu baik sehingga saat kita dilintasi olehnya, dalam pikiran yang tak sadar, seolah mampu menceritakan kesemua-muanya dari kita hingga tak tersisa. Entah ya, tapi mungkin ini adalah sebagian naluri dari kita; naluri manusia.
Ah, aku kira ini adalah bentuk penceritaan yang sudah paling ringkas & baik. Yang kira-kira masih aku ingat untuk diceritakan ulang ketika aku bercerita hanya pada angin saat itu. Begini ceritanya:
Januari.
Aku mengingat bulan ini adalah bulan yang baik & paling hangat di tahun ini — mungkin juga tahun lainnya. Mengapa? Bulan ini adalah bulan kelahiranku dan di bulan ini, tahun ini, sepertinya aku juga mendapat kehangatan itu. Seperti apa?
- Tepat 1 Januari (karena aku merayakan tahun baru di Sala kala itu) aku dengan kawan kostku berkeliling di solo; ke toko buku, ke masjid keraton, minum wedang ronde yang hangat, & tak lupa belanja buku untuk kali pertama di tahun ini. Kurasa aku membeli buku kahlil gibran sayap-sayap patah, filosofi teras, & Novel Dunia Sophie.
- Dua hari berselang (tepat 3 Januari) aku beserta kawan-kawan jurusan mendaki ke Gunung Andong untuk pertama kalinya. Kami berempat & di situ untuk 2 hari jika tidak salah (tanggal 5 sudah kembali ke kost).
- 7 Januari (sepertinya) aku sudah kembali ke rumah dengan kawan-kawan dari UNS Purbalingga (Ramagata); perjalanan yang ramai lagi menyenangkan.
- Sekiranya sampai akhir bulan aku di rumah, aku bersosialisasi dengan adik-adik SMA/SMK kelas 12 dari pelbagai sekolahan di kota ku. Ini juga pengalaman yang cukup membuatku gugup buat berbicara di depan mereka, tapi juga lagi hangat & menyenangkan sebab melihat antusias mereka & berbagi hal kecil yang sekiranya mungkin dibutuhkan.
Februari.
Aku rasa bulan ini lumayan menenangkan & menyenangkan. Di bulan ini, aku cukup berlibur dengan kawan (dari Tk), memandangi arus air terjun yang tenang & di bulan ini aku juga membaca buku puisi yang bagus-bagus. Kadang-kadang silaturahim ke kawan lama SMK, ke kawan jurusan — meski jauh. Di pertengahan bulan aku balik ke Sala, & di sana lanjut berkegiatan seperti biasa di kost. Kadang pula ke UKM Robotik, ya tahun ini tim kami bersiap untuk lomba — meski ujung-ujungnya aku tidak jadi ikut.
Maret.
Aku mengingat bulan ini bulan yang cukup mengejutkan. Betapa tidak? Di bulan ini, ketika baru beranjak satu bulan di semester 2 kuliah, tiba-tiba saja wabah Pandemi COVID-19 datang, & menyerang, & akhirnya kami dipulangkan. Tepat tanggal 16 Maret kami — mahasiswa yang satu kota tujuan — bergegas meninggalkan Sala, sebab katanya waktu itu kota itu KLB (Kondisi Luar Biasa).
Dan aku juga mafhum, virus ini bukanlah virus sembarangan. Ehiya, baru kuingat sebelum kami buru-buru pulang, aku dengan kawan satu kost betul-betul berbersih sebersih-bersihnya di kost kala itu (dari sprei, lantai kost, tas, sampai uang pun kami cuci). Kemudian datanglah istilah seperti kuliah daring, webinar, sesuai protokol kesehatan, jaga jarak, social distancing, selalu pakai masker & istilah-istilah seterusnya yang begitu menyelimuti di tahun 2020 ini.
April.
Bulan ini memang sepertinya disiapkan untuk patah hati, ya (paling tidak di tahun 2020 ini). Ya, aku rasa film bertajuk, Your Lie In April. Atau lagu kondang seperti: April, Fiersa besari. Punya satu tema yang sama: putus cinta, ditinggalkan kekasih, dlsb. Seperti film & lagu itu, di bulan ini aku pun merasa hal-hal demikian. Pengalaman yang cukup sesak lagi pahit (mungkin kecut).
Pengalaman apa itu? aku menyatakan perasaan (confess) kepada gadis yang sedari satu tahun belakangan cukup aku kagumi dari jauh, kadang dekat, kadang juga entah. Lantas kenapa pahit? Apalagi kalau bukan perasaanku yang bertepuk sebelah tangan. Ia peduli kepadaku tapi sekadar sebagai teman (tetapi aku menganggapnya itu lebih, meski terdengar aneh). Dan ia benar-benar meminta maaf, karena waktu itu ia juga dekat dengan orang lain.
Meski demikian, waktu itu aku cukup bangga, kenapa? Sebab aku berani berharap & menyatakan. Tapi bodohnya malah lewat pesan WA, duh! — pengalaman yang tak selayaknya diulang. Paling tidak, ini tak akan berlarut sebagai bentuk kasih sayang yang palsu & ternyata berlainan. Waktu itu aku ingat hanya memegang prinsip dari pak Pram, yang nadanya: seseorang harus berani tegas, kalau tidak ia tak pernah jadi apa-apa.
Dan yeah, I did it, sekarang, meskipun aku seolah kehilangan (atau mungkin aku menghilang?) aku mendapat jawaban yang jelas & aku bisa terlepas dari gadis itu.
Mei.
Aku mengingat bulan itu adalah bulan yang barokah. Seperti kita tahu bersama, di bulan itu ada perayaan lebaran hari raya. Namun, kurasa begitu kurang & gersang, sedikit sekali interaksi, ya sebab pandemi juga sih. Saudara-saudara juga tidak semuanya lengkap pulang. Tidak ada petasan yang terdengar seperti biasa, tidak ada hiruk-pikuk tawa antar saudara keluarga yang jauh.
Meski demikian, di bulan itu selain berbuka puasa penuh di rumah, aku juga menemukan hal-hal baru. Seperti mulai menggandrungi film-film studio Ghibli, membaca buku di ipusnas, & sebagainya. Dan tentunya merasakan cukup lelah juga saat jaga di toko milik kakak.
Juni.
Di bulan ini aku mengingat mulai lagi bersilaturahim dengan kawan-kawan SMK. Satu kali waktu juga mereka (berempat) datang ke rumah & menginap di sini. Kami bercerita banyak soal kehidupan, rasan-rasan dunia kuliah, semacam deeptalk, dlsb.
Ohiya mulai awal bulan juni juga aku mulai melaksanakan program penggemblengan diri (inisiatif) untuk lebih fokus lagi ke jalan pemrogramman; ke jalan coding. Waktu itu aku melaksanakan program #100DaysOfCode. Lebih tepatnya aku catat di twitter, kubagikan proses & hasilnya juga di sana. Meski sebenarnya juga menulis artikel tiap hari (tapi gagal juga) di medium untuk update progress. Linknya di sini:
https://twitter.com/rafikbo_jes/status/1267292217661468673
untuk medium: https://medium.com/@arafiknurf/mengapa-saya-melakukan-100daysofcode-5af81b92d805
Selain program itu, aku juga melaksanakan program #100DaysOfNewMusic dimana itu kujalani sebagai bentuk rasa keingintahuan ku pada musik-musik baru. Yang mana agar diri tidak mudah bosan ketika melakukan aktifitas sehari-hari di rumah saja.
Link: https://twitter.com/rafikbo_jes/status/1267289528433180672
Juli.
Di bulan ini aku tidak banyak mengingat. Akan tetapi sepertinya juga aku cukup bermain ke rumah teman. Menghilangkan stress akibat kuliah online: dimana aktifitas hanya berada pada layar gawai atau laptop & itu sungguh-sungguh membosankan.
Selebihnya aku asyik dengan program #100DaysOfCode ku untuk awal-awalan & ternyata hampir mendekati hari ke-40 aku begitu buyar & di situlah kadang mulai tak fokus. Apalagi aku juga perlu menjaga toko. Perlu kerjakan tugas kuliah online juga. Hufft.
Agustus.
Awal bulan agustus lalu aku merayakannya dengan bertandang ke kawan jurusan yang ada di cilacap, merayakan idul adha dengan bakar-bakaran (meski telah terlewat). Kami bertiga memang dekat dari awal bertemu semester 1 dan sampai sekarang pun untuk urusan tugas kuliah, organisasi, atau semacamnya masih saling bergantung & saling mengisi. Di bulan itu aku juga mendapat kabar duka dari keluarga sendiri.
Selebihnya, cukup terkuras waktu dan tenaga di siang, pun juga ketika malam. Menjaga toko, kuliah online, mengerjakan tugas, mengerjakan program #100DaysOfCode, & menangis ketika malam.
September.
Sepertinya bulan ini paling terberkati, sih. Bagaimana tidak? Di bulan ini aku mencoba memberanikan diri buat mengikuti lomba puisi setingkat nasional dengan pesertanya yang tidak kalah banyak, juga jurinya yang tidak kalah keren. Lewat lomba ini juga aku ditemukan dengan seseorang. Wah, terberkatilah yang menyelenggarakan lomba ini!
Di bulan ini juga aku menyelesaikan #100DaysOfCode, #100DaysOfNewMusic & membuat satu program yang benar-benar jadi. Yaitu berupa mobile apps untuk toko kakakku, namanya HitungPaketan Apps. Ada di sini: https://github.com/x1q2q/100DaysOfCodeRafikbojes/tree/master/day100-hitung_paketan
Meski dipakai untuk beberapa bulan saja, sih. Dan karena suatu alasan juga sekarang diberhentikan & belum dipakai kembali. Tapi aku punya rencana untuk mengajukan kebermanfaatannya lagi!
Oktober.
Menyenangkan sekali bulan ini, begitulah fikirku ketika terlintas nama bulan oktober. Yap, di bulan ini aku melaksanakn program baru juga, namanya #30DaysWritingChallenge. Di program ini aku share lewat blog medium. Berkat program itu juga aku merasakan benar-benar menulis secara konsisten — meski kadang tak tepat waktu. Tapi aku merasa terlatih karena itu. Meski masih belum kunilai bagus, paling tidak itu sudah menjadi awal yang baik dalam pengalaman menulisku. Bisa dilihat di sini:
https://twitter.com/rafikbo_jes/status/1311695607996706817
November.
Di bulan ini mungkin aku juga mendapat kasih. Entahlah, tapi aku rasa kehadirannya begitu nyata ada. Dan semoga apa-apa yang kusemogakan itu bukanlah yang bersifat kesementaraan.
Di penghujung bulan, aku ke Sala juga (2 hari) bersama kawan satu kostku. Kami berangkat cukup malam, kira-kira jam 22.00 dari purbalingga. Dan sampai Wonosobo, tepatnya di sebuah pom bensin, sekitar pukul 12 dini hari, kami rehat mushola di dalamnya. Dan itu pengalaman pertamaku bermalam di musholla & benar-benar tidur di dalam musholla!
Setelah sampai di sana & menuntaskan apa yang dituju, kami pulang & memutuskan sedikit refreshing karena kulon-kulon yang mengganas. Kami pergi ke dieng plateau, Wonosobo. Tapi ternyata sesampainya di situ kabut begitu tebal. Akhirnya kami cukup berfoto sebentar di situ, lantas melanjutkan perjalanan pulang.
Desember.
Di penghujung akhir tahun ini yang paling kuingat mungkin adalah tugas-tugas semester 3 yang cukup banyak & menumpuk. Cukup susah pula.
Tapi syukurlah masih ada secercah harapan lain, mungkin dari seseorang itu. Dan aku sangat-sangat bersyukur bisa dipertemukan dengannya. Meski aku tak pernah mengerti seperti apa nanti? Hanya ada doa-doa baik yang tersambung, juga kebaikan prasangka yang musti aku benahi.
Ohiya, aku melaksanakn program #1yearSelfie juga loh, di sini: https://www.instagram.com/p/CJdHqgzhHk1/?utm_source=ig_web_copy_link
Pengalamanku membaca buku-buku? Bisa dilihat di akun goodreadsku ini: https://www.goodreads.com/review/list/81685163?shelf=read
Mungkin, yang baru kuingat malam ini hanya itu. Hanya itu yang menggambarkan bagaimana sepanjang tahun 2020 ini. Begitu berkecukupan rasa bahagia & rasa sedih; yang nampak & tak nampak; yang membuat hati gusar & hati mekar; yang dulu patah kini benar tumbuh; yang dulu tak pernah kurasa kini benar aku sesap, dll dlsb.
Meski semuanya bercampur dengan perasaan yang benar-benar sesak, sebab pandemi yang tiba-tiba datang ini. Pandemi yang membuat kita (seolah sebagai pengendara) sama berani buat berhenti, untuk sementara waktu. Ya, sementara waktu. Walaupun sementara itu bisa sangat-sangat panjang bagi kita.
Satu hal yang pasti: Terima kasih 2020.
Selamat pergantian akhir tahun, ya, teman-teman yang membaca ini. Salam hangat & jabat erat dariku, dari sini. Doa-doa baik bagi kita semua. Tabik.