sebelum duapuluh
sepanjang jalan mendekati benderang
sebelum duapuluh pohon cemara
sebelum duapuluh menit aku melintang
purbalingga-solo, solo-purbalingga.
ditelan sepi, bukanlah hal buruk
hujan-gerimis; terjal-berlubang
panas-terik pun kuterjang.
kuambil persepsi dari balik celana
lalu kusisipkan ke ketiak ibu.
ia bermunajat, waktu mendengar
anak tercinta malang melintang.
ku mampir ke toko membeli rokok
kuhisap-kubuang tanpa kusesap.
barangkali sesingkat rindu
yang masih bisa kusemai.
di sepanjang jalan mencari benderang
menyusuri kalbu, membentuk kalimat
kulipat-lipat aku masukkan ke akal pikiran
ibu bertanya: kapan engkau bermanfaât.
kepada hidup yang super singkat
kepada teman yang terus berjalan
kuterus berharap pada nadiku,
ritme jantungku, akal sehatku: bermanfaât.