Ternyata Malam Jadi Panjang
Tulisan ini hadir di sela-sela aku ngerjain skripsi, ngelamun, liatin kipas, ndengerin lagu iwan fals, lagu jason ranti, ngopi, ngeroko di pinggir jalan sambil liatin bulan & kenyataan kalau ternyata sudah “selama ini” aku belum pernah nulis lagi. Mungkin satu tahun? jika bikin thread panjang-kali-lebar di twitter itu bukan termasuk “menulis”.
Sebetulnya ada, bahan buat ditulis: soal update percintaan-kah, kuliah-kah, keluarga-kah, pengalaman baru-kah, atau apa aja yang bikin gelisah. Sebetulnya ada. Tapi aku belum bisa dapet feel kenapa “harus ditulis di sini”, kendati ngobrol ke temen atau berceloteh di twitter itu sudah cukup.
“Ada yang bertikai belum selesai dengan diri sendiri …”, aku berani bertaruh kalau lirik itu secara terang-terangan menikam eksistensi pendengarnya. Kalaupun penulis lagu tersebut — Jejeboy, selalu bilang lagu-lagunya bebas penafsiran. Ada rasa ketidaksadaran beliau yang mungkin saja ingin menghadirkan pengalaman eksistensialnya. Lirik-lirik yang sengaja menghujam batin tatkala sendirian. Jejeboy se-dalam itu dengan jiwanya.
Paling tidak itu yang kurasa di beberapa lagu yang belakangan aku dengerin berkali-kali di album “Jalan Ninja”. Berikut adalah lagu-lagu beliau yang kuhimpun ke playlistku yang terbaru:
Kalau boleh mengungkapkan dengan amat jujur, lagu “Dialex Dini Hari” adalah lagu yang bikin aku keluar ke teras: sekadar ngerokok, ngelamun liatin bulan dan khidmat dengerin lagu ini. Aku merasa terus terkilir di tiap tikungan liriknya … ooh, “mungkin butuh menepi, mungkin hidup butuh menepi”.
Tapi di sini ga perlu juga membahas soal album itu lebih panjang. Biar kubahas di lain waktu — kalau memang gak malas. Biar malam saja yang jadi panjang. Memojokkan diriku yang terjaga, sebegitu krisis identitasnya, se-menyedihkan ini, se-tidak tahu diri ini. Aku cuman berdoa agar bisa lebih kuat lagi dan sadar kalau kita sedang berada di “taman bermain yang bebas”.
Kalaupun cerita ini belum tahu kemana akan berlabuh. Bagaimana nanti dengan pertemanan yang sepanjang kuliah ini terjalin — oh, shit aku benci perpisahan. Barangkali aku bakal banyak termenung nanti. Ternyata sepi teman abadi.
Begitu banyak pikiran belakangan, banyak hal terjadi di luar prediksi, banyak hal tidak bermanfaat datang. Aku selalu berdoa agar aku bisa lebih kuat lagi dari keadaan ini. Malam yang panjang selalu menyudutkanku di tiap lamunan, entah berapa hal.
Soal percintaan yang semakin ga jelas. Keluarga yang aku juga gaktahu harus bagaimana menyikapinya. Soal semangat ngerjain skripsi yang hilang selama sebulan. Soal tekanan hidup yang entah dari mana lagi datangnya. Mungkin quarter life crisis? bisa jadi. Tapi gak tahu juga. Aku masih awam dengan diriku, aku masih awam lagi dengan jiwaku.
Semoga persoalan-persoalan itu bisa terkikis sekian waktu sebentar lagi. Berharap malam jadi panjang dan aku terjaga untuk menyelesaikan apa-apa yang menjadi tanggunganku. Semoa aku bisa lebih menerima diriku ke depannya. Semoga pasrah jadi nama tengahku — seperti kata jejeboy!
Lagi pula hidup sebebas itu. Jadilah apa pun yang aku rindu. Aku rindu malam-malam yang seperti takdir, untuk terus mengalir, aku rindu menikmati lamunan-lamunan, kesepian dengan takaran yang pas.
Ternyata malam memang jadi panjang. Kuharap aku bisa selesei dengan diri sendiri.