Rafik NurF
9 min readMar 13, 2019

Kali ini saya akan menceritakan pengalaman pertama saya dalam mendaki Gunung, sebab sebelumnya saya sudah berjanji akan mengabadikan pengalaman pertama saya ini dalam bentuk artikel/tulisan, tepat di atas gunung sana . Beberapa hari yang lalu, akhir tahun 2018 tepatnya tanggal 29 Desember, saya bersama kedua rekan kerja saya ; Andrianto dan om Deni, juga satu teman lagi dari om Deni, yaitu mas Fattah dari Kebumen, memutuskan untuk mendaki Gunung Kembang yang ada di Wonosobo.

Berawal dari ketertarikan saya sendiri terhadap alam, namun sejak dulu selalu terhalang kendala ketika masih di Sekolah, tidak membuat saya putus semangat dan menutupi rasa penasaranku untuk mendaki gunung. Ya bagaimana tidak terhalang, sejak kecil saya jarang sekali di-ijinkan untuk pergi keluar (ngelayab). Masa-masaku dulu sering kuhabiskan di rumah, memandangi monitor, untuk bersosial pun juga tidak jauh dari rumah. Eh, kok malah flashback masa-masa ku dulu, hadeh. Saya sangat bersyukur, tuhan memberikan kesempatan kepadaku untuk menikmati sebagian keindahan dari anugerah-Nya yang begitu luas, salah satunya yaitu mendaki Gunung. Sejak pertama kali saya masuk ke lingkup kerja, saya kerap kali mendengar rekan-rekan saya membicarakan tentang perjalanan pendakian mereka sebelumnya, karena dari situlah saya mulai tertarik.

Suatu hari, ketika rekan kerja saya sedang membicarakan rencana pendakian gunung selanjutnya, saya mencoba nimbrung ke pembicaraan, dan tanpa pertimbangan, saya langsung nyeletuk ingin ikut bersama mereka mencoba mendaki gunung. Bahkan saya sendiri pun tidak tahu akan di-ijinkan oleh Ibu saya atau tidak, karena Ibu saya itu tipikal yang mudah khawatir (ya, emang semua orang tua seperti itu ya, hihihihi). Namun, karena ketertarikan dan rasa penasaran saya yang tinggi, urusan seperti itu adalah perkara belakangan (hehehe, namanya juga anak muda kan ya).

Setelah mencoba nimbrung ke perbincangan rencana untuk naik gunung tersebut, tibalah saat waktu yang berbahagia dan dengan tempo yang sesingkat-singaktnya HEHEHEHE. Saat itu kami be rangkat dari tempat saya kerja menuju rumah teman kami yang satunya yaitu om Deni. Sekitar pukul 10 lebih dari tempat saya kerja menuju ke rumah teman kami dan sampai di sana sekitar jam set 11 lebih. Di sana kami istirahat sebentar untuk langsung pergi ke kebumen. Ya, kita kesana untuk menyusul teman-teman kami yang sedang berwisuda. Ada sekitar 5 teman kami yang wisuda di salah satu gedung kota kebumen. Walaupun di sana kami ber tiga terlambat datang, tapi untunglah kita kesana langsung ke acara makan-makanya hiyaaa.

Oke, setelah acara makan-makan dengan teman kami yang sedang berbahagia kami langsung lanjut menuju masjid alun-alun kota kebumen sekita jam 3 sore. Disana kami berniat untuk bertemu dengan teman pendakian yang dari kebumen. Namanya mas Fatah, dia adalah teman om Deni yang kenal di jejaring media sosial. Setahu saya dia itu adalah guru di sekolah dasar. Setelah berjumpa kami sholatlah sekalian di masjid tersebut karena sudah masuk waktu ashar.

Setelah semua teman untuk mendaki terkumpul, saya bersama mas Fatah, dan Andri dengan om Deni membawa dua motor ke wonosobo dan start dari kebumen sekitar jam 4 sore. Kami berangkat dari kebumen melewati waduk wadas lintang. Disana kami istirahat untuk sekedar berfoto-foto ria. Tapi memang bagus sih pemandangan di wadas lintang sendiri. Kami sampai di wonosobo kota sekitar jam 6 sore dan langsung ke masjid pom bensin untuk sholat maghrib.

Setelah sholat kami menuju ke basecamp gunung kembang dan saat perjalanan menuju kesana kami cukup kebingungan dan sampai kesasar untunglah ngga kesasar kejauhan. Setelah putar balik dan lewat jalur google maps akhirnya sampai ke basecamp sekitar jam 7 lebih. Saat itu malam minggu dan lumayan pendaki yang turun waktu saya datang ke basecamp. Segeralah kami pergi ke warung di sekitar basecamp, karena kami dari bawah sama sekali belum bawa persiapan makanan ataupun minuman. Setelah makan malam, sholat dan mempersiapkan semuanya yg akan di bawa ke puncak kami bergegas naik sekitar setengah 10 malam lebih.

Huahhh…. Sedikit menghembuskan napas, saya dengan team terlebih dahulu berdoa untuk mengiringi keselamatan kami. “Wah kayanya ini bakal seru si”, gumam dalam hati saya yang baru saja benar-benar menggunakan tas carrier bukan untuk ajang pamer saja.

Pada jalur pendakian pertama di gunung kembang kami dipertemukan dengan jalur perkebunan teh. Jalur ini cukup licin dengan kondisi tanah yg cukup naik dan jarang sekali ditemukan permukaan yang datar. Membuat saya sendiri agak kewalahan, halahhh. Baru juga beberapa menit, cuman jalan terus bawa tas carrier yang ngga berat-berat amat kok langsung merasa lelah. Hashh ramashook blas iki awakku jannn~~.

Mungkin benar sih badanku emang lumayan ringkih, ya emang udah kurus dari dulu, tapi saya tidak langsung putus semangat :) saya sadar bahwa ini pengalaman pertama kali saya mendaki gunung, dan pasti semua orang yang mengalami pengalaman pertama kali mendaki juga merasakan ini, dan menurut saya menyerah di awal adalah hal yang sangat menghina diri sendiri. Saya harus kuat, ini adalah keniginanku sendiri, masa iya sih harus kalah sama keinginan sendiri,ya engga lah. Begitu sih kalau aku mengalami masalah terhadap keyakinan pada diri sendiri.

Beberapa langkah demi langkah terus mengiringi keringat yang kian menit terus mengucur dari dalam tubuh. Udara malam hari di wonosobo begitu dingin, tapi untunglah saya memaki kaos yang dibaluti jaket sehingga tidak begitu terasa. Namun karena angin malam yang terus berhembus serta pendakian kami yang cukup tergesa-gesa ingin sampai cepat ke puncak, jadilah keringat itu bercampur dengan hawa dingin sejuknya di jalur pendakian.

Meski capek dan banyak perjuangan untuk memulai pendakian ini, langkah demi langkah membuat rasa capek ini hilang begitu saja, saling sapa kepada sesama pendaki saat berpapasan di jalan juga bisa membuat diri menjadi lebih semangat lagi. Terhitung 2 kali saya berhenti sejenak utuk mengambil minum, sungguh udara yang dingin dan rasa gerah, haus berkali-kali adalah hal yang wajar. Perjalanan dari basecamp ke pos 1 sungguh sangat menyita waktu, karena di bagian ini lah rute yang paling panjang. Dimana kami harus melewati kebun teh, istana katak kemudian masuk ke hutan pendakian baru sampai di pos 1, cuman disini karena kami berjalan dengan cepat maka hanya perlu beberapa jam saja untuk sampai kesana. Hiya lumayan cepet kan, xixixi.

Selang beberapa waktu kami sampai ke pos 2, di sana sering sekali berpapasan dengan pendaki lain dari berbagai ragam daerah. Keadaan hutan disana lumayan licin, tapi syukurlah keadaan akar-akar di sana cukup lumayan banyak jadi masih ada pegangan ketika akan terjatuh. Saat sampai ke pos 3 yaitu pos akar, disana cuaca semakin dingin, dan semakin menanjak jadi saya harus berhati-hati.

Belum sempat sampai ke pos 4 yaitu pos sabana, air hujan telah datang lebih dahulu bersama dinginnya kabut. Masih di dalam hutan pendakian kami mencari tempat berteduh sementara untuk memakai mantel. Begitu sampai di pos 4 saya kira sabana itu berupa permukaan datar dan tempat yang indah untuk mengabadikan momen, namun kenyataannya di pos 4 sabana ini hanya berupa sabana yang menanjak dan kabut yang mengelilinginya. Sehingga tidak pas juga untuk mengabadikan momen di sini, yahh :( .

Di pos 4 sabana ini untuk mencapai pos berikutnya yaitu tanjakan mesra tidak begitu jauh, namun begitu miring dan makin naik. Saat itu dipikiran saya hanya satu, selamat-selamat, dan tidak hentinya berdoa demi keselamatan diri. Ya gimana ngga tegang sudah hujan, permukaan sangat miring, pertama kali mendaki, dan adanya kabut yang membuat suhu menjadi sangat dingin. Untunglah banyak pendaki lainnya yang merasakan hal yang sama. Artinya saya tidak merasakan sendirian, hehehhee.

Penah terpikir saat saya berhenti sejenak, saya membayangkan jika saya sengaja menjatuhkan diri ke bawah lalu mengakhiri perjalanan yang melelahkan ini, hashhh ramashook blas ya cuy :( . Untunglah hanya terlintas bayang-bayangku saja saat itu, logika ku masih berjalan dan masih sangat ingin melanjutkan sampai ke puncak serta pantang menyerah pada kondisi apapun pada saat itu.

Tidak begitu lama sampai di tanjakkan mesra, yaitu pos 5 (terakhir) di sana saya juga melihat beberapa pendaki ada yang terkena hipotermia dan terpaksa berhenti cukup lama untuk menghangatkan diri bersama rekan mendakinya. Saya sendiri sempat membayangkan bagaimana nantinya jika yang mengalami hipotermia itu diriku, hash. Sungguh uring-uringan mungkin. Untunglah setahuku tidak pernah mengalami riwayat penyakit hipotermia jadi cukup lega untuk tidak membayangkan yang tidak-tidak.

Tapi sepengetahuan saya yang mengalami hipotermia pada malam itu di sepanjang jalur pendakian gunung kembang, terbilang lumayan banyak. Tapi untunglah terselamatkan dan tidak terjadi hal yang tidak diinginkan saat itu. Sekitar set 1 lebih kalau nggak salah, saya sampai duluan di puncak. Menyusul 3 teman saya yang lain. Sesampainya di puncak gunung kembang itu saya merasa takjub, dengan berkata dalam hati ‘wahh jad ini ya yang namanya puncak gunung itu’ sungguh indah memang. Ya meski waktu itu masih tertutup kabut yang cukup tebal dan hujan yang tidak turut berhenti. Tapi seenggaknya bertemu dengan kawan-kawan lain yang sudah mendirikan tenda terlebih dahulu di puncak anak gunung sindoro ini.

Sesudah tim kami sampai di puncak semua bersama dengan rombongan tim lain, kami bergegas mencari tempat untuk mendirikan tenda. Dan ternyata di puncak gunung pun malah tetap dingin dan tanganku pun meraskan kaku benar-benar kaku.

Berdirilah satu buah tanda dengan kapasitas 4 orang di dalamnya. Kami membersihkan diri dan bergegas menuju tenda untuk menghangatkan diri di dalam. Setelah itu kami sedikit cerita ngalor-ngidul tentang masalah percintaan, pengalaman masa kecil, politik hingga pasokan makanan sedikit, yang makin malam makin habis.

Kami yang tidur sekitar jam 3 pagi dan bangun sekitar jam 5 pagi lebih, Saya mencoba untuk keluar dari tenda dan wahh, apa yang terjadi ? Hujan dan kabut masih mengelilingi puncak gunung kembang. Sungguh tidak sesuai dengan perkiraan :( Namun disitu saya belum merasa putus asa, pikirku masih ada jam 6 -8 pagi yang semoga matahari terbit bersamaan dengan kabut yang menghilang,

Namun apa daya takdir tetap berkata lain, matahari makin naik, namun kabut tetap tak mau pergi. Meski hujan kadang reda, kadang turun lagi. Saya memberanikan diri ke luar untuk melihat di sekitar puncak yang memang harusnya pemandangannya itu sungguh luar biasa bagus, akan tetapi karena kabut dan hujan yang masih belum sempat reda. Hanya ada langit yang berwarna putih dan rumput basah lah yang kami lihat di sana. Sungguh pengalaman pendaki yang malang :(

Tapi bagiku itu tidak lah malang-malang sekali, setidaknya saya merasa kan satu malam di puncak gunung bersama teman-teman. Bagaimana rasanya menahan lapar rasa capek sejenak. Ya itu sungguh tidak ada sia-sianya. Bagi saya pelajaran yang saya ambil lebih dari sekedar hanya ajang untuk berpamer ria di media sosial. Akan tetapi persiapan yang matang, fisik dan mental yang harus cukup siap dimana akan mendaki gunung. Karena itu sangat lah hal yang sangat krusial saat akan mendaki gunung. Pengetahuan yang sedikit namun begitu berarti bagi hidup saya, sungguh tidak ada ciptaan tuhan di dunia ini yang cacat. Berbaik sangka dan tetap mensyukuri keadaan adalah kunci untuk menghadapi kuasa tuhan.

Sekitar 12 siang saat hujan belum sempat reda kami memberanikan diri untuk berkemas, kemudian berfoto di tugu dengan mengibarkan bendera merah putih disana. Dengan membawa turun sampah ke bawah, kami turun dari puncak gunung sekitar pukul setengah 2 dan kami pun kehujanan dari puncak sampai bawah juga :( , sudah pas naik kehujanan, di puncak tidak mendapatkan sunrise, penuh dnegan kabut, turun gunung pun juga kehujanan, Hashh.

Tapi itu tidak begitu masalah bagi saya, meski pengalaman pertama yang cukup pahit dan cukup memakan banyak biaya, saya tidak kapok jika nantinya saya akan naik gunung lagi :) Dari situ saya bisa menganalisis sendiri bagaimana jika nanti saya naik gunung, hal-hal apa saja yang benar-benar butuh untuk kita bawa dan apa yang tidak perlu sama sekali untuk kita bawa ke puncak gunung.

Terimakasih, ini adalah kesekian tulisan yang mengalami draft, karena sebelumnya saya pernah berjanji untuk mendokumentasikan perjalanan ini. Sejak bulan januari lalu sudah mulai untuk mencicil namun pada akhirnya kesampaian selesai tetap di bulan maret ini. Sungguh sangat-sangat telat, tapi ya mau bagaimana lagi :)

Lampiran ;

- Saat berkunjung ke kota kebumen sebelum keberangkatan menuju ke wonosobo. Tepatnya di alun-alun kebumen

- Pada saat melewati waduk wadas lintang

- Persiapan saat akan mulai mendaki di basecamp pendaftaran.

- Di puncak gunung kembang dengan ruang kabut yang sangat tebal

Rafik NurF
Rafik NurF

Written by Rafik NurF

sedang menemui dan menemukan kejutan-kejutan dari Tuhan.

No responses yet