Tiga Puisi untuk Satu Nama
Ketika Kunang-kunang Berhasil Hinggap di Hidungmu
Ada sejumlah tembok
ingatan yang kokoh
kursi-kursi yang melengkapi
perjamuan di tiap tahun
melengkapi kelenganganmu
di luar jendela sekolah
di sepanjang jalan
basah, hening
tumbuh kembang sepasang
menghias di pekarangan.
anak-anak gemar
berceloteh, terkaanmu sebelum
bicara. di sebelah gang
sempit, yang tiap maghrib
kau arahkan kameramu
ke atas langit-langit
redup. tak ada senja
sepertinya, ia tak berani
kabarkan kepulangannya
di kotamu yang hendak
padam.
sesekali, ada anak
sang senja yang lelah
mengenalkan sayap-sayapnya
yang kuning, kemilau
indah di malam-malam
yang tanggung.
tapi itu bukan senja, katamu.
sambil kau torehkan sisa
cat air di kanvasmu
malam ini. itu kunang-
kunang, sahutmu. hish
imajinasimu lucu, ujarmu lagi
lirih sekali.
ada apa kau dengan kunang-kunang itu?
aku tak mengerti bahasa mana yang tertera
di bibirmu yang terasa berat ku artikan
jadi metafora. aku hanya ingin sampaikan
begini:
kunang-kunang itu bakal hinggap
di hidungmu, ingatanmu
dalam nafasmu.
hingga menggengam pandangmu
menemani sayup matamu
bersama kopi-kopimu
menjadi tempat
istirahat baik
tubuh kunang-
kunang itu
hingga lupa kira-kira mana
yang luput tak kuberi tahu.
aku kira: kunang-kunang itu
mungkin aku, aku.
bukan sang anak senja itu.
— Purbalingga, November 2020
-
Perihal Matamu yang Tajam
kepada pecandurindu/puterifajar
puisi-puisi berjatuhan
suara radio rahib
dari atas langit
malam ini dingin, ya, kau berkata
sementara
rembulan memudar
& perlahan ingatanku
berhadapan dengan
mata-matamu
yang tajam.
— Purbalingga, 16 Desember 2020.
-
Membayangkan Kau dan Aku Pada Sebuah Rindu
Aku selalu membayangkan ini sebagai hujan bulan Desember
yang ditarik tuasnya oleh Tuhan & perihal keterangannya
di larik-larik footnotes, kita mengerti: seperti sajak, sajak
yang disisipkan pada tempias dari atap yang tergores
dari amsal kangen & hening percakapan yang sebentar
ada & setelahnya tak ada.
Aku juga membayangkan, pada rintik yang kadang
berteduh di eternit kamar, saat percakapan lalai
kabar yang lelap; sebuah prasangka masuk tanpa permisi
& ragu memberat & kau memastikan: semisal
kangen adalah kangen yang pasti ada percakapan
yang mewujud & ragu menyusut.
“Tapi ini yang bisa kita miliki saat ini”
Kita pun berceloteh tentang sajak:
Pada hujan yang sebentar, langit yang berhasil
membiarkan kita terhenti dengan obrolan gigil
dengan ritus pandemi: pertemuan yang tak khusyuk;
cemas yang tak kunjung.
& Desember, meminta Kita pada sebuah rindu.
“Tapi ini yang bisa kita miliki saat ini”
Kau dan aku membayangkan, hanya sajak itu.
Hanya sajak itu yang mampu mengabarkan rindu.
— Purbalingga, 21 Desember 2020